Bung Karno, Perjuangan Sang Jurnalis Hingga ke Panggung Revolusi

photo author
- Rabu, 8 Januari 2025 | 17:30 WIB
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno saat membacakan naskah proklamasi. Bung Karno, pendiri bangsa Indonesia, memulai perjuangannya melawan kolonialisme melalui tulisan-tulisannya sebagai wartawan. (Foto: Instagram @sedjarah.indonesia)
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno saat membacakan naskah proklamasi. Bung Karno, pendiri bangsa Indonesia, memulai perjuangannya melawan kolonialisme melalui tulisan-tulisannya sebagai wartawan. (Foto: Instagram @sedjarah.indonesia)

PURWAKARTA ONLINE - Presiden Sukarno, atau akrab dipanggil Bung Karno, dikenal sebagai tokoh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Namun, siapa sangka, perjalanan panjangnya menuju kemerdekaan dimulai dari perannya sebagai seorang wartawan.

Jurnalisme Sebagai Alat Perlawanan

Sukarno pertama kali mengenal dunia jurnalistik saat menjadi kontributor surat kabar Oetoesan Hindia.

Berkat mentor utamanya, H.O.S. Cokroaminoto, ia diberi ruang untuk menuangkan gagasan dan kritik tajam terhadap kolonialisme.

Baca Juga: Donasi Agus Salim Rp 1,3 Miliar Dialihkan untuk Korban Bencana Alam di NTT: Sebuah Keputusan yang Menyentuh Hati

Dengan nama pena seperti “Bima” dan “Mahabarata,” Sukarno menggunakan tulisan-tulisannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat.

Dalam salah satu tulisannya pada 1921, Sukarno menyerukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme, “Hapuskan kapitalisme yang didukung oleh imperialisme yang merupakan budaknya!”

Di sinilah Sukarno mulai menyadari bahwa pena bisa menjadi senjata melawan penindasan.

Menghidupkan Nasionalisme Lewat Media

Ketika pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di Technische Hogere School (sekarang ITB), pemikiran Sukarno semakin matang.

Baca Juga: Sayembara Rp 10 Juta untuk Mengungkap Pelaku Vandalisme Karya Seni di Kalimalang, Bekasi

Bersama Algemeene Studieclub, ia mendirikan majalah Soeloeh Indonesia Moeda.

Sebagai pemimpin redaksi, ia menulis artikel-artikel tajam seperti “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang menekankan pentingnya persatuan dalam melawan penjajah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Enjang Sugianto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X