Purwakarta Online - Pada Jumat (5/7/2024), Mang Deden, seorang tokoh budaya dan sejarah yang juga Mustasyar MWCNU Kecamatan Kiarapedes, berbicara mengenai persepsi yang salah tentang Prabu Siliwangi dalam sebuah diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh PAC ISNU Kecamatan Kiarapedes di Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Ciheulang, Desa Margaluyu, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.
Diskusi ini turut dihadiri oleh aktivis GP Ansor, IPNU, IPPNU, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah.
Mitembeyan: Mengupas Sejarah Prabu Siliwangi
Mang Deden menyoroti narasi-narasi yang dianggap tidak masuk akal terkait sejarah Prabu Siliwangi.
Salah satu narasi yang sering beredar adalah tentang benturan antara Kesultanan Banten yang beragama Islam dengan Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Narasi ini menyebutkan bahwa Prabu Siliwangi terdesak oleh Kesultanan Banten, dikejar-kejar untuk diislamkan, hingga akhirnya melarikan diri ke hutan dan berubah menjadi harimau.
"Seolah-olah terjadi benturan antara Islam dengan Sunda, padahal itu politik," tegas Mang Deden.
Ia menambahkan bahwa sejarah Prabu Siliwangi kerap disalahpahami, padahal jika ditelusuri lebih dalam, yang terjadi adalah benturan politik, bukan agama.
Diskusi Bulanan PAC ISNU Kecamatan Kiarapedes
Diskusi ini merupakan bagian dari acara rutin bulanan yang diadakan oleh PAC ISNU Kecamatan Kiarapedes, yang baru saja sukses melaksanakan konferensi pada 26 Juni 2024 di Desa Sumbersari.
Ketua ISNU Kecamatan Kiarapedes, Muhamad Supenda Griana, ST, menekankan bahwa kegiatan ini menyesuaikan tema dengan kebutuhan masyarakat.
Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, yang dipimpin oleh Ustad Dadang Saputra (Katib Syuriah MWCNU Kecamatan Kiarapedes), menjadi tuan rumah untuk diskusi ini.
Diskusi ini tidak hanya menarik perhatian para aktivis GP Ansor, IPNU dan IPPNU, tetapi juga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya Sunda.