Cara Beternak Itik yang Ramah Lingkungan!

photo author
Tim Purwakarta Online 03, Purwakarta Online
- Kamis, 9 Juni 2022 | 00:25 WIB
Kotoran kandang itik dapat dikelolah secara alami agar tidak menimbulkan bau (autobening.blogspot.com)
Kotoran kandang itik dapat dikelolah secara alami agar tidak menimbulkan bau (autobening.blogspot.com)

Purwakarta Online - Daging Itik adalah salah satu pilihan masyarakat untuk memenuhi nutrisi protein hewani. Mahalnya daging sapi merupakan salah satu penyebab banyaknya peminat daging itik. 

Banyaknya permintaan daging itik menjadi salah satu ide usaha yang dapat dikembangkan, pasalnya untuk membesarkan ternak itik tidak membutuhkan sistem yang sulit meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Melihat peluang tersebut banyak masyarakat yang memulai jenis usaha ini, namun masih banyak peternak yang tidak memperhatikan sisi kebersihan lingkungan.

Beternak itik tergolong mudah karena tidak memerlukan sistem perkandangan yang mahal dan mudah pemeliharaannya. Namun, masalah polusi dari bau kotoran dan perkandangan itik masih menjadi tantangan.

Baca Juga: Pengumuman Hasil Rekrutmen BUMN 2022 Sudah Dapat Diakses Hari Ini!

Peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Poniman, SP. M.Ling mengatakan bahwa masalah bau pada peternakan itik dapat mengganggu estetika bahkan menurunkan produktivitas ternak. Bau tersebut disebabkan oleh senyawa kimia amonia dan hidrogen sulfida.

“Gas penyebab bau pada kotoran itik disebabkan oleh amonia dan H2S dengan H2S yang melebihi ketentuan baku mutu 0,02 mg/kg,” kata Poniman dalam Seminar Berkala Pelayanan Informasi Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner yang digelar secara virtual seperti dilansir pada Selasa (26/4/2022).

Menurut Poniman, kotoran padat sebagai salah satu sumber bau dari peternakan itik dapat dikelola menjadi pupuk organik. Salah satunya dengan menggunakan bantuan maggot atau larva lalat BSF.

“Maggot bisa dari yang diternakkan sendiri atau beli di sekitar kita. Yang dicari adalah maggot pada fase instar atau 7-10 hari setelah menetas,” ucapnya.

Baca Juga: Indonesia dan Tiongkok Junjung Tinggi Prinsip 'People to People Contact'

Pada teknologi pengelolaan limbah kotoran itik dengan maggot, takarannya adalah 10 kg maggot diaplikasikan untuk setiap 1 ton kotoran itik. Maggot disebarkan secara merata pada kotoran itik yang dikumpulkan dan ditempatkan secara aman dari jangkauan itik. Kotoran yang telah diberi maggot dilakukan pembalikan agar proses makan maggot sempurna.

“Setelah 7-10 hari, kotoran yang semula diberi maggot kita panen menggunakan ayakan agar yang didapat adalah kotoran yang sudah dimakan dan bertekstur halus. Ini menjadi pupuk organik yang siap untuk digunakan,” jelas Poniman.

Tidak hanya itu, maggot dari proses pengelolaan kotoran itik juga dapat dimanfaatkan. Setelah 7-10 hari, maggot telah siap berproses menjadi kepompong. Maggot ini dapat diteruskan siklus hidupnya atau diternakkan menjadi maggot yang akan digunakan kemudian.

Baca Juga: Demi Memaksimalkan Pelayanan Publik, Pemkab Purwakarta Lakukan Gempungan

Poniman menambahkan bahwa maggot dapat dijadikan pakan ternak itik dengan diberikan secara langsung menjadi campuran pakan. Selain itu, maggot juga dapat dikeringkan menjadi tepung maggot untuk pakan ternak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Febri Nugrahadi

Sumber: litbang.pertanian.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X