Om Gepeng dari kaki Gunung Burangrang, Diskusi Kopi yang Menyatukan Kiarapedes dan Tegalwaru
PURWAKARTA ONLINE – Jalan sempit dan berkelok di pinggang gunung tak menyurutkan langkah Mardani Dika Kusuma.
Pria yang akrab disapa Om Gepeng itu, rela menempuh hampir tiga jam perjalanan dari kaki Gunung Burangrang di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, menuju kaki Gunung Parang di Desa Sukamulya di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.
Bukan tanpa alasan. Ia hadir sebagai narasumber utama dalam Diskusi Kopi bertema Kolaborasi dan Optimalisasi Potensi Kopi sebagai Komoditi Unggulan Daerah yang digelar Komunitas Pemuda Agra Mandiri, Kamis 19 Juni 2025, di Saung Bah So’un, kaki Gunung Parang.
Lokasi diskusi itu begitu memukau. Sebuah lembah estetis diapit dua gunung legendaris; Gunung Parang dan Gunung Bongkok.
Saat kabut turun menelan puncak gunung, suasana mistis menyelimuti diskusi yang hangat—seakan alam ikut menyimak obrolan para petani dan penggerak komunitas.
Kolaborasi Dua LMDH, Dari Kiarapedes ke Tegalwaru
Diskusi ini bukan hanya pertemuan biasa. Ia adalah bentuk nyata dari kerja sama antar LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) di Kabupaten Purwakarta.
LMDH Giri Pusaka dari Desa Pusakamulya, Kiarapedes, dan LMDH Tani Mulya dari Desa Sukamulya, Tegalwaru, sama-sama mengelola lahan di kawasan Perum Perhutani.
Jika Giri Pusaka telah lebih dulu sukses dengan pertanian kopi dan wisata alam, kini giliran Tani Mulya ingin menapak jejak serupa.
Seminggu sebelumnya, pemuda Tegalwaru datang ke Pusakamulya untuk belajar langsung. Kini, mereka mengundang balik.
Atas arahan Asep Rahmat Saleh Setiaji (Zaenx), Pembina LMDH Giri Pusaka, Om Gepeng ditunjuk sebagai narasumber.
Ia hadir bersama Sekretaris LMDH Giri Pusaka, Enjang Sugianto.