Sementara Gunung Bongkok menyimpan mitos telapak kaki raksasa yang konon berasal dari seorang pemancing raksasa di Sungai Citarum.
Cerita-cerita ini menambah daya pikat kawasan sebagai destinasi wisata dan sumber identitas lokal.
Dari Kopi, Kita Bertumbuh
Diskusi ditutup menjelang pukul 16.00 WIB.
Kabut mulai menghilang, dan puncak Gunung Parang kembali tampak megah.
Beberapa peserta menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang gunung, sebagai pengingat bahwa hari ini mereka telah menanam benih harapan—dari secangkir kopi menuju kebangkitan desa.
Semoga kopi jadi pintu masuk kemajuan Desa Sukamulya, Tegalwaru!***
Artikel Terkait
Model Pengembangan Berkelanjutan dan Kesiapan Peternak Kalkun di Desa Pusakamulya
Model Pengembangan Berkelanjutan Usaha Ternak Kalkun di Desa Pusakamulya: Usulan Strategis untuk Pemberdayaan Peternak
Pengaruh Variabel Lingkungan terhadap Suhu Tubuh Domba: Studi Kasus di Desa Pusakamulya, Purwakarta
Keracunan Tembaga pada Domba: Ancaman Mematikan yang Sering Terabaikan
Presiden Prabowo Dorong Singapura Investasi Pertanian Modern dan Kesehatan Nasional
Menilai Sistem Pendukung Keputusan untuk Peternakan Berkelanjutan: Sebuah Pendekatan Holistik
Menakar Peran Subsektor Peternakan dalam Perekonomian Jawa Barat: Review Data 2020–2023
Koperasi Giri Pusaka Purwakarta, Fokus Pertanian Kopi dan Wisata Hutan
Kacang Sanca Inchi, Superfood Langka yang Mulai Dibudidayakan Petani di Purwakarta
Komunitas Pemuda Agra Mandiri Angkat Kopi Jadi Komoditas Unggulan Tegalwaru Purwakarta