“Hasil 5,4 kg ini cukup memuaskan. Tapi kami dari BPP tetap akan mendampingi petani, baik dari sisi budidaya, sarpras, maupun penyuluhan,” kata Nana.
Ia menambahkan bahwa hasil panen di Kiarapedes memang berbeda dengan daerah dataran rendah seperti Karawang, karena perbedaan suhu, struktur tanah, dan luasan lahan.
Budaya Tani yang Empatik dan Tantangan Teknologi
Kiarapedes dikenal memiliki budaya empati tinggi antar petani.
Beberapa petani memilih tetap menggunakan cara tradisional "gebot" untuk merontokkan padi, agar buruh tani tetap bisa bekerja, meski sudah ada alat pertanian modern.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam penerapan teknologi pertanian, penggunaan pestisida yang tepat, dan keseragaman masa tanam.
Baca Juga: 10 Fakta Menarik tentang Sapi yang Jarang Diketahui Orang!
“Pengetahuan soal pestisida dan teknologi masih jadi tantangan di sini,” tambah Nana.
Varietas Padi dan Rencana Demplot Nutrizinc
Varietas padi Mekongga masih menjadi favorit petani Kiarapedes.
Namun, pemerintah menyarankan untuk mulai mengadopsi padi Inpari IR Nutrizinc guna meningkatkan gizi hasil panen.
Petugas POPT bersama penyuluh dan petani seperti Bidin, juga berencana membuat demplot khusus Nutrizinc.
Pemeriksaan pH tanah untuk demplot ini akan dilakukan Senin (16/6/2025) oleh Atang Kusmana, penyuluh pertanian dari BPP Garokgek.
Baca Juga: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Sapi: Asal Usul, Penularan, dan Strategi Pencegahan
Ancaman Lain, Penggerek Batang alias Bebeluk