PURWAKARTA ONLINE – Hama tikus di wilayah pegunungan Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, memang tidak begitu signifikan dibandingkan daerah sawah di utara Pulau Jawa seperti Cikarang Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Namun, karakter unik dari hama ini tetap membuat petani dan petugas lapangan waspada.
Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kiarapedes, Hafid Adnan, mengungkapkan pengalamannya saat bertugas di Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Ia menyebut hama tikus sebagai "preman sawah" karena tingkahnya yang tidak terduga.
“Satu mati, temannya nyerang lebih ganas. Tikus itu seperti preman!” ujar Hafid saat ditemui Tim PURWAKARTA ONLINE, Jumat (13/6/2025).
Baca Juga: Breaking News: Kadis Perikanan Purwakarta Siti Ida Hamidah Ditahan Terkait Kasus Dugaan Korupsi
Meski wilayah Kiarapedes berada di pegunungan dengan suhu lebih rendah dan petak sawah yang kecil-kecil, serangan tikus tetap terjadi, seperti di Desa Ciracas dan Desa Mekarjaya.
Menurut Hafid, pengendalian tikus dengan racun justru bisa memicu serangan yang lebih hebat.
Ia menyarankan metode pengasapan (empos) sebagai langkah yang lebih efektif, tergantung pada usia tanaman padi.
Ubinan: Hasil Memuaskan di Daerah Pegunungan
Pada kegiatan ubinan yang dilaksanakan pada 3 Juni 2025 di Kelompok Tani Subur, Desa Ciracas, diperoleh hasil rata-rata 5,4 kilogram per petak ubinan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Koordinator Penyuluh Pertanian (Kepala BPP Kecamatan Kiarapedes) Nana Sumarna, MP, Kabid Tanaman Pangan Doktor Tatang Sopian, Ph.D., Kepala Desa Ciracas Eman Sulaeman, penyuluh, serta perwakilan KTNA.
Baca Juga: Kenapa Banyak Anak Muda di Purwakarta Ogah Bertani? Ini 5 Alasan Nyatanya