PURWAKARTA ONLINE - Presiden Sukarno, atau akrab dipanggil Bung Karno, dikenal sebagai tokoh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namun, siapa sangka, perjalanan panjangnya menuju kemerdekaan dimulai dari perannya sebagai seorang wartawan.
Jurnalisme Sebagai Alat Perlawanan
Sukarno pertama kali mengenal dunia jurnalistik saat menjadi kontributor surat kabar Oetoesan Hindia.
Berkat mentor utamanya, H.O.S. Cokroaminoto, ia diberi ruang untuk menuangkan gagasan dan kritik tajam terhadap kolonialisme.
Dengan nama pena seperti “Bima” dan “Mahabarata,” Sukarno menggunakan tulisan-tulisannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat.
Dalam salah satu tulisannya pada 1921, Sukarno menyerukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme, “Hapuskan kapitalisme yang didukung oleh imperialisme yang merupakan budaknya!”
Di sinilah Sukarno mulai menyadari bahwa pena bisa menjadi senjata melawan penindasan.
Menghidupkan Nasionalisme Lewat Media
Ketika pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di Technische Hogere School (sekarang ITB), pemikiran Sukarno semakin matang.
Baca Juga: Sayembara Rp 10 Juta untuk Mengungkap Pelaku Vandalisme Karya Seni di Kalimalang, Bekasi
Bersama Algemeene Studieclub, ia mendirikan majalah Soeloeh Indonesia Moeda.
Sebagai pemimpin redaksi, ia menulis artikel-artikel tajam seperti “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang menekankan pentingnya persatuan dalam melawan penjajah.