Sejarah dan Perkembangan Budaya Minum Kopi di Indonesia

photo author
Enjang Sugianto, Purwakarta Online
- Sabtu, 25 Januari 2025 | 09:00 WIB
Seorang perempuan cantik minum Kopi Mang Enjang di sebuah kedai di Purwakarta. Sejarah kopi di Indonesia bermula sejak masa penjajahan Belanda, membawa pengaruh besar pada budaya minum kopi di tanah air. (Dok. Poktan Barong Mulya)
Seorang perempuan cantik minum Kopi Mang Enjang di sebuah kedai di Purwakarta. Sejarah kopi di Indonesia bermula sejak masa penjajahan Belanda, membawa pengaruh besar pada budaya minum kopi di tanah air. (Dok. Poktan Barong Mulya)

PURWAKARTA ONLINE - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia.

Namun, tahukah Anda bahwa kopi bukan tanaman asli Indonesia?

Sejarah kopi di tanah air dimulai pada akhir abad ke-16, ketika VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) membawa bibit kopi Arabika ke wilayah ini.

Tujuannya adalah untuk mengakhiri monopoli Arab dalam perdagangan kopi dunia.

Bibit kopi pertama kali ditanam di Batavia (Jakarta), kemudian meluas ke Sukabumi, Bogor, dan wilayah lain di Jawa.

Baca Juga: Konflik ASMARA GEN Z Episode 54: Ketegangan Fattah, Sandy, dan Aqeela

Dengan tingginya permintaan pasar, perkebunan kopi mulai berkembang ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, dan Sulawesi.

Perkembangan ini turut mendorong pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan rel kereta api, khususnya di Jawa Tengah.

Sistem transportasi ini memudahkan pengangkutan kopi dari pedalaman ke pelabuhan untuk diekspor.

Namun, pada akhir abad ke-19, hama kopi melanda perkebunan di Indonesia, Sri Lanka, dan Malaysia.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian memperkenalkan varietas kopi baru, seperti Liberica dan Robusta.

Baca Juga: Firman Hertanto, Hotel Aruss Semarang dan Skandal Pencucian Uang Judi Online

Robusta, yang lebih tahan hama, akhirnya menjadi andalan, hingga kini menyumbang 90% produksi kopi nasional.

Pasca kemerdekaan, industri kopi mengalami perubahan besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Enjang Sugianto

Sumber: Jurnal Ilmiah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X