Lahan pertanian di Kiarapedes umumnya kecil dan berbentuk terasering.
Oleh karena itu, penggunaan alat mesin pertanian harus disesuaikan, seperti traktor kecil berkapasitas maksimal 6,5 VK.
Tak hanya itu, budaya pertanian di Kiarapedes juga masih menjunjung tinggi empati sosial.
Banyak petani yang lebih memilih merontokkan padi secara manual (gebot) agar para buruh tani tetap memiliki pekerjaan, meskipun alat modern sudah tersedia.
Pupuk dan Varietas Padi
Soal pupuk, Nana memastikan bahwa petani di Kiarapedes sudah mendapatkan akses pupuk bersubsidi.
Namun, ia menegaskan pentingnya pembaruan data tiap tahun oleh pemerintah desa dan kelompok tani agar distribusi pupuk tetap lancar.
Varietas padi yang paling digemari petani saat ini adalah Mekonga.
Namun, pemerintah juga menyarankan petani mulai menggunakan varietas unggul seperti Inpari IR Nutri Zinc yang lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki kandungan gizi lebih tinggi.
Baca Juga: Pergeseran Tanah Rusak 45 Rumah di Cigintung Purwakarta, Jalan Utama Terputus, Warga Mengungsi
Nana mengakui bahwa penggunaan benih unggul dan teknologi pertanian memang sudah mulai diterapkan.
Namun, tantangan masih ada, terutama terkait pengetahuan petani dalam penggunaan pestisida secara tepat dan serempaknya pola tanam di berbagai desa.
“Kekompakan tanam belum seragam, dan ini masih jadi PR kita bersama,” pungkasnya.***
#KecamatanKiarapedes #NanaSumarna #PanenPadi #PertanianPurwakarta #UbinanPadi #PurwakartaOnline