LPPNU Dukung Petani Kopi di Kecamatan Tegalwaru Purwakarta Lewat Diskusi di Lembah Gunung Parang

photo author
Enjang Sugianto, Purwakarta Online
- Kamis, 19 Juni 2025 | 21:16 WIB
LPPNU dan Komunitas Agra Mandiri gelar diskusi kopi di Tegalwaru, Purwakarta, bahas potensi kopi dan pariwisata gunung. (Dok. PURWAKARTA ONLINE/Enjang Sugianto)
LPPNU dan Komunitas Agra Mandiri gelar diskusi kopi di Tegalwaru, Purwakarta, bahas potensi kopi dan pariwisata gunung. (Dok. PURWAKARTA ONLINE/Enjang Sugianto)

Sementara itu, Haji Saefuloh, Ketua LMDH Tani Mulya, menambahkan bahwa tanah hutan produksi di wilayah ini selama ini ditanami pohon kayu seperti jati, mahoni, dan samoja, namun kopi kini mulai menarik perhatian petani.

Potensi Wisata dan Budaya di Gunung Parang

Odod, Kabid Pariwisata Disporaparbud Purwakarta menyebutkan bahwa Gunung Parang dan Gunung Bongkok sudah terkenal secara nasional sebagai destinasi wisata.

“Kopi bisa memperkuat potensi wisata alam yang sudah ada. Tapi semua harus kolaboratif, tidak bisa ego sektoral,” kata Odod.

Menurut cerita warga, Gunung Parang pernah disebut sebagai tempat penyimpanan barang oleh tentara Jepang di masa perang dunia, sedangkan Gunung Bongkok menyimpan legenda telapak kaki raksasa di puncaknya.

Inspirasi dari Petani Sepuh dan Tokoh Muda

Kehadiran petani sepuh Aeng Haerudin membawa pelajaran berharga. Ia menanam cengkeh sejak 1987, namun gagal karena tidak memahami sumber benih. Ia berpesan agar generasi muda belajar dulu sebelum bertani serius.

Abdul Aziz, perwakilan dari Kecamatan Tegalwaru, mendukung penuh inisiatif ini.

“Kopi bisa jadi ikon Desa Sukamulya, dan siapa tahu juga ikon Kecamatan Tegalwaru. Kita semua penikmat kopi, mari jadikan ini potensi ekonomi baru.”

Ia juga menyebut perjuangan Abang Ijo Hapidin, Wakil Bupati Purwakarta yang berasal dari dunia kopi, sebagai inspirasi perjuangan dari ladang ke kursi politik.

Harapan Para Pemuda

Diki Setiawan alias Coki, Sekretaris Komunitas Agra Mandiri, menyampaikan bahwa mereka ingin kopi jadi identitas desa.

“Kami punya banyak ide, tapi kendalanya... ya, banyak pemuda yang ‘kedul macul’ (malas bertani).”

Namun semangat tetap menyala, karena hari itu mereka berhasil menyatukan para pihak untuk bicara, berdiskusi, dan membangun harapan dari lembah Gunung Parang.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Enjang Sugianto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X