Keluarga Dokter Aulia Risma Berduka, Ayah Meninggal Dunia Setelah Kematian Tragis Putrinya

photo author
Enjang Sugianto, Purwakarta Online
- Selasa, 27 Agustus 2024 | 21:02 WIB
Menkes jenguk ayah Dokter Aulia Risma Lestari (Ist)
Menkes jenguk ayah Dokter Aulia Risma Lestari (Ist)

Namun, keluarga dan sejumlah pihak lainnya tetap meyakini bahwa bullying adalah faktor penyebab utama yang membuat Aulia mengakhiri hidupnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga membenarkan kabar duka tersebut.

Dalam pernyataannya, Budi menyebutkan bahwa ia sempat melihat kondisi kesehatan ayah Aulia memburuk saat mengunjungi kediaman keluarga di Tegal beberapa hari lalu.

Baca Juga: Buka Celah Pasar 2 Petani Muda Purwakarta Ikuti Business Matching Perkebunan Jabar 2024

“Karena memang kondisinya berat. Jadi tadi malam sekitar jam 01.00 WIB wafat,” ujar Budi di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sementara itu, Kemenkes telah menghentikan sementara program studi anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di RSUP Dr Kariadi Semarang menyusul kematian Aulia yang diduga akibat perundungan.

Hasil visum menunjukkan bahwa Aulia meninggal akibat overdosis obat Roculax, sebuah jenis obat anestesi peregang otot.

Dari catatan harian Aulia yang ditemukan polisi, terungkap bahwa ia mengalami kesulitan selama kuliah dan mengeluhkan perlakuan buruk dari seniornya.

Meski demikian, polisi belum menemukan bukti yang mengarah pada tindakan perundungan secara spesifik.

Baca Juga: Update Ramalan Hard Gumay: Akan Ada Sosok Wanita Baru bagi Pratama Arhan, Siapakah Dia?

Rektor Undip, Suharnomo, memastikan bahwa pihaknya akan menjatuhkan sanksi terhadap terduga pelaku perundungan jika terbukti bersalah, namun hasil investigasi internal sejauh ini tidak menemukan bukti perundungan sebagai penyebab kematian.

Dr. Ningz, dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktik di Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan, melalui akun Instagramnya menyampaikan duka mendalam.

“Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarga Almarhumah dr. ARL yang harus kehilangan dua keluarga kesayangan mereka dalam waktu satu bulan terakhir,” tulis Ningz.

Ningz juga menekankan pentingnya mengawal kasus ini untuk mendorong perubahan sistemik dalam dunia kedokteran.

“Sudah cukup, ini harus menjadi yang terakhir. Jangan sampai ada lagi kasus serupa di masa depan,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Enjang Sugianto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X