SP 88, Pejuang Purwakarta Spesialis Sabotase Kereta Api Belanda Pasca Perjanjian Renville

photo author
Enjang Sugianto, Purwakarta Online
- Selasa, 28 Januari 2025 | 14:05 WIB
Kereta api korban SP 88 di Purwakarta. SP 88, pasukan gerilya Purwakarta yang menggetarkan Belanda dengan aksi sabotase kereta api dan propaganda, hingga menjadi andalan perjuangan Republik. (Arsip Nasional Belanda)
Kereta api korban SP 88 di Purwakarta. SP 88, pasukan gerilya Purwakarta yang menggetarkan Belanda dengan aksi sabotase kereta api dan propaganda, hingga menjadi andalan perjuangan Republik. (Arsip Nasional Belanda)

PURWAKARTA ONLINE - Purwakarta menjadi saksi bisu perjuangan sengit melawan penjajahan Belanda.

Salah satu kisah heroik tercatat pada keberadaan Satoean Pemberontak 88 (SP 88), kelompok gerilya yang terkenal karena aksi-aksi beraninya.

Dibentuk pada 1 Februari 1948, SP 88 merupakan transformasi dari Field Preparation Barisan Hitam (FPBH) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Oesman Soemantri.

SP 88 menjadi andalan perjuangan bersenjata setelah Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah pasca-Perjanjian Renville.

Baca Juga: Investasi Fiktif PT Taspen, Kerugian Negara Capai Rp200 Miliar

Dengan anggota sekitar 1.500 orang dan persenjataan sebanyak 450 pucuk, mereka mengutamakan kecepatan dan kerahasiaan dalam setiap operasi.

Salah satu aksi mereka yang paling terkenal adalah sabotase rel kereta api di Bendul, utara Purwakarta, pada 22 Oktober 1948.

Sepanjang 20 meter rel dibongkar, menyebabkan lokomotif Belanda terguling.

Serangan ini menewaskan 8 tentara Belanda dan melukai 23 lainnya.

Baca Juga: Libur Panjang Isra Miraj dan Imlek 2025, Satlantas Polres Purwakarta Siap Amankan Jalur Wisata

Belanda yang murka melakukan operasi besar-besaran di wilayah tersebut.

Sepuluh anggota SP 88, termasuk Uswata bin Asman dan Darja bin Sarta, ditangkap dan dihukum mati.

Meski begitu, aksi SP 88 terus berlanjut, termasuk operasi propaganda yang membuat Belanda geram.

Gar Soepangat, eks anggota SP 88, mengenang bagaimana mereka menempelkan poster ancaman dan mencoret tembok dengan slogan kemerdekaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Enjang Sugianto

Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia, Historia, National Archives of the Netherlands

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X