pertanian

Kabut Datang Lagi ke Kampungku, Setelah Lama Tak Berkunjung

Jumat, 8 Agustus 2025 | 08:38 WIB
Foto kebun teh saat turun kabut di Kelompok Tani Barong Mulya, Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta. Foto diambil tanggal 22 Pebruari 2014. (Foto: Kelompok Tani Barong Mulya/Enjang Sugianto)

PURWAKARTA ONLINE - Pukul 06.15 WIB, dengan tergesa-gesa saya mengantar anak saya yang duduk di kelas 3 SD menuju sekolahnya di Wanayasa. Kami menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer ke arah barat menggunakan sepeda motor.

Maklum, sejak masa kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi sebagai Bupati Purwakarta (2008-2018), jam masuk sekolah di Purwakarta dimajukan lebih pagi. Suasana pagi di kampung pun jadi ramai sejak pukul 05.30 WIB.

Namun, ada satu hal yang membuat pagi itu terasa berbeda, kabut kembali turun di kampungku.

Sudah lama saya tak melihat kabut setebal ini. Dulu, saat saya masih kecil di awal tahun 90-an, kabut seperti ini adalah pemandangan biasa. Kini, ia seperti sobat lama yang baru sempat berkunjung kembali.

Sepanjang jalan menuju Wanayasa, kabut cukup tebal. Sepeda motor dan mobil saling berpapasan menembus putihnya kabut pagi. Saya seperti dibawa bernostalgia ke masa kecil. Untung tidak sampai celaka, karena sepanjang perjalanan, penglihatan mata saya tertuju ke kilasan masa lalu.

Itu masa dimana udara terasa lebih sejuk. Pohon-pohon teh kami tumbuh bahagia di kebun. Sekarang, tanaman-tanaman itu seolah kepanasan terus. Apa perlu kebun teh kami dipasangi AC? Ah, khayalan saya mulai kelewatan.

Tapi mungkin, inilah yang disebut sebagai pemanasan global.

Silakan buka situs BMKG. Tertulis di sana bahwa pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer, lautan, dan daratan Bumi dalam jangka panjang. (Sumber: BMKG)

BMKG juga menjelaskan, fenomena ini terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebutkan bahwa suhu Bumi saat ini sudah 1,1°C lebih hangat dibanding akhir abad ke-19. Dekade 2011–2020 tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah. (Sumber: PBB)

Dampaknya? Tak main-main. Mulai dari cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, kekeringan, hingga mengancam kesehatan dan ekonomi global.

Sesampainya di sekolah anak saya, saya langsung bergegas pulang. Di perjalanan ke arah timur, kabut perlahan mulai berkurang. Mentari pagi masih disembunyikan awan, sedikit terang karena cahayanya mulai menyelinap masuk, di sela putihnya kabut.

Saya merasa bahagia pagi itu. Suhunya lebih dingin dari biasanya. Mungkin sedingin masa kecil saya di tahun 90-an.

Suhu pagi ini mengingatkan saya pada jurnal IPB yang menyebutkan bahwa suhu ideal untuk tanaman teh (Camellia sinensis) adalah antara 13°C hingga 30°C, dengan iklim sejuk dan lembap yang mendukung pertumbuhannya. (Sumber: Jurnal IPB)

Halaman:

Tags

Terkini

Ketika Mantan PETI Bersama-sama Membangun Pongkor

Minggu, 1 Maret 2026 | 22:25 WIB