Hafid juga mencatat bahwa banyak petani belum memahami siklus hidup hama penggerek batang.
“Kalau kita tahu kapan telur menetas, kita bisa semprot dengan insektisida sistemik sebelum larva merusak batang padi,” jelasnya.
Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah membuat demplot padi varietas Inpari IR Nutrizinc, sebuah benih unggul yang disarankan pemerintah.
Demplot ini akan dipantau langsung oleh penyuluh Atang Kusmana dan petugas POPT.
Senin depan (16/6/2025), Atang dijadwalkan mengecek pH tanah di lokasi demplot di Kelompok Tani Barong Mulya, Dusun Legokbarong, Desa Pusakamulya.
Baca Juga: FGD Indeks Desa 2025 di Ciracas, Warga Validasi Data Pembangunan Sebelum Penetapan
Kendala dan Kearifan Lokal Petani
Masalah lain yang dihadapi petani Kiarapedes adalah penggunaan pupuk dan pestisida yang belum tepat sasaran.
Meski pupuk bersubsidi tersedia, pemahaman akan penggunaannya masih minim.
“Petani wajib memperbarui data setiap tahun melalui kelompok tani dan pemerintah desa,” kata Nana Sumarna.
Petani Bidin, misalnya, telah menggunakan pupuk cair nutrisi, yang dibedakan untuk masa vegetatif dan generatif.
Hafid Adnan menyambut baik hal ini dan berharap penggunaan pupuk semakin tepat sesuai fase pertumbuhan.
Di sisi lain, ada kearifan lokal yang masih kuat di kalangan petani Kiarapedes.