Rupiah Melemah, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi?

photo author
Reza Ainudin, Purwakarta Online
- Rabu, 15 Januari 2025 | 03:35 WIB

PURWAKARTA ONLINE - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi nilai tukar (kurs) rupiah akan melemah seiring dengan tren apresiasi dolar Amerika Serikat (AS).

Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat, yang dirilis pada Desember 2024.

Data tersebut menunjukkan bahwa Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada bulan Desember mencapai 256 ribu, jauh lebih tinggi dari 212 ribu di bulan sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap ketat, yang bisa memicu kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve (The Fed), dengan suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Era Baru Timnas Indonesia di Bawah Patrick Kluivert, Apa yang Bisa Diharapkan?

Pengaruh Data Pasar Tenaga Kerja AS terhadap Kurs Rupiah

Data NFP yang menguat memicu apresiasi dolar AS karena investor cenderung mengalihkan perhatian mereka ke aset-aset yang lebih menguntungkan di pasar AS. Hal ini menyebabkan depresiasi kurs rupiah terhadap dolar.

Seiring dengan penguatan dolar AS, yield obligasi AS (UST) juga meningkat, yang pada gilirannya berdampak pada yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia yang naik sekitar 7-11 basis points (bps).

Pada hari Senin, 13 Januari 2025, volume perdagangan obligasi pemerintah Indonesia tercatat Rp16,81 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan hari Jumat sebelumnya yang tercatat Rp12,23 triliun.

Pemerintah juga menggelar lelang obligasi untuk seri SBSN dengan target indikatif Rp10 triliun, yang mencakup berbagai seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Baca Juga: Tragis, Sandy Permana Aktor Arya Soma dalam Serial 'Mak Lampir' Tewas Ditusuk, Ini Profilnya

Sentimen Pasar dan Risiko Ke Depan

Meskipun laporan terbaru dari tim ekonomi Presiden AS terpilih, Donald Trump, mengindikasikan pendekatan moderat terhadap kenaikan tarif impor, yang dapat memicu sentimen risk-on di pasar keuangan, para investor cenderung tetap berhati-hati.

Mereka menunggu rilis data Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan Desember 2024 yang dijadwalkan pada 15 Januari 2025.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Reza Ainudin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X