PURWAKARTA ONLINE - Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan ancaman reshuffle kabinet.
Dalam pidatonya di acara Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama (NU), Prabowo menyatakan akan menindak menteri yang dianggap bandel dan tidak bekerja untuk rakyat.
Puncak Kekesalan Prabowo
Pernyataan Prabowo ini dinilai sebagai puncak kekesalannya terhadap beberapa kebijakan menteri yang menuai polemik.
Baca Juga: Strategi Akuisisi Grab terhadap GOTO, Langkah Besar di 2025?
Direktur Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menyebut istilah "ndablek" dan "bandel" yang digunakan Prabowo sebagai bentuk kekecewaan mendalam.
Selama 100 hari pertama, beberapa kebijakan menteri memicu kegaduhan.
Dari polemik LPG, pagar laut, hingga rencana kenaikan PPN yang akhirnya dibatalkan.
"Presiden harus turun tangan seperti pemadam kebakaran untuk menyelesaikan kecerobohan menterinya," ujar Agung.
Baca Juga: Galaxy S25 Series, Smartphone AI Terbaik untuk Kreator Konten?
Menteri yang Tidak Seirama Akan Dilengserkan
Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, memperkuat pernyataan Prabowo dengan menyebut ada menteri yang tidak sejalan dengan visi Presiden.
Prabowo menegaskan bahwa kepentingan utama pemerintahannya adalah rakyat.
Jika ada menteri yang tidak bekerja dengan benar, maka mereka akan disingkirkan.