PURWAKARTA ONLINE, Semarang - Kematian tragis dr. Aulia Risma Lestari, seorang dokter muda dan mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi di Universitas Diponegoro (Undip), telah mengguncang publik.
Spekulasi terus berkembang, menyebutkan bahwa Aulia mengakhiri hidupnya akibat tekanan perundungan yang ia alami selama menempuh pendidikan.
Namun, di tengah gencarnya opini publik, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian ini.
Salah satu temuan penting yang mungkin menjadi kunci adalah rekaman CCTV dari kos tempat Aulia ditemukan tewas.
Buku Diary: Jejak Kesedihan yang Tertinggal
Di lokasi kejadian, polisi menemukan buku diary yang ditulis oleh Aulia.
Dalam catatan harian tersebut, Aulia menggambarkan penderitaan yang ia alami selama menjalani pendidikan dokter spesialis.
Isi diary ini mencerminkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Aulia, baik secara fisik maupun mental.
"Sakit sekali, beban fisiknya begitu besar... Aku tidak sanggup lagi meneruskan siklus ini. Aku mohon, maafkan aku yang menyerah," tulis Aulia dalam salah satu entri di diary-nya, tertanggal 5 Juli 2024.
Kontroversi: Bunuh Diri atau Kelebihan Dosis?
Meskipun banyak yang percaya bahwa Aulia tewas karena bunuh diri, pihak keluarga dengan tegas membantahnya.
Melalui kuasa hukumnya, Susyanto SH MH, keluarga Aulia menyatakan bahwa kematian Aulia disebabkan oleh kelebihan dosis obat anestesi, bukan bunuh diri.
"Almarhumah memiliki riwayat penyakit saraf kejepit yang jika kelelahan itu terasa sakit. Dalam keadaan darurat, dia mungkin menyuntikkan obat anestesi dan kelebihan dosis. Intinya, pihak keluarga menolak berita bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri," tegas Susyanto.