Purwakarta Online - Pemilu 2024 telah berlalu dengan sejumlah catatan pahit bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Meski memiliki dukungan yang tidak sedikit, partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep ini harus menghadapi kenyataan pahit tak berhasil menembus Senayan.
Dibalik laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye (LPPDK) yang mencapai angka fantastis, PSI harus puas berada di luar pagar gedung legislatif.
Dari data yang dihimpun, PSI menorehkan capaian penerimaan dan pengeluaran tertinggi ke-3 dengan LPPDK mencapai Rp 80 miliar.
Baca Juga: Percuma Habis Rp80 M, Partai Kaesang Tak Lolos Senayan!
Meski demikian, hal itu tidak cukup untuk membawa partai tersebut melewati ambang batas parliamentary threshold (PT) sebesar 4 persen.
Dengan hanya meraih 2,81 persen dari total suara sah nasional, PSI harus rela menepi dari panggung politik pusat.
Salah satu momen menarik dalam kampanye PSI adalah penggunaan nama Jokowi, Presiden Joko Widodo, yang diharapkan menjadi magnet pemilih.
Namun, upaya tersebut tidak membawa hasil sesuai harapan.
Baca Juga: Keadaan Masa Kerajaan Majapahit: Memahami Fondasi Ekonomi yang Kuat di Balik Kekuasaan
Meski begitu, Kaesang Pangarep, sang ketua umum PSI, menanggapinya dengan kedewasaan politik yang patut diapresiasi.
"Proses ini menjadi pembelajaran bagi PSI untuk lebih matang dalam berpolitik dan berkembang ke arah yang lebih baik," ujar Kaesang Pangarep dalam konferensi pers di Basecamp DPP PSI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Maret 2024.
Meski gagal mencapai kursi di Senayan, Kaesang menyatakan sikap positifnya atas keputusan pemilih.
"Saya sebagai ketua umum enggak masalah. Ini namanya politik kita harus siap menang, siap kalah. Dan ini menjadi hal yang biasa sekali kalo kita mengeluarkan sebuah anggaran, hal yang biasa," tandasnya.
Artikel Terkait
Kehadiran Kerajaan Majapahit: Kekuatan Politik, Ekonomi, dan Peran Vital Bengawan Solo
Skandal Masuk Akpol: Oknum Polisi Sergai Hancurkan Handphone di Depan Penyidik
Habib Bahar bin Smith Marah Besar, Urusan Duit Rp25 Miliar
Habib Bahar bin Smith: Saya biasanya ditunggu orang, ini saya tunggu dia satu jam, ya saya ngamuk lah!
Habib Bahar bin Smith Geram: Kalau Beking Dia Iblis, Saya Makan!
Habib Bahar bin Smith Tidak Takut, Meski yang Ia Buru Mengaku Punya Akses ke Kapolri dan Megawati
Desk Pilkada PKB Purwakarta Membangun Komunikasi Politik dengan Sejumlah Bakal Calon Bupati Hingga Parpol
Pemanfaatan Sungai Bengawan Solo sebagai Tulang Punggung Ekonomi Kerajaan Majapahit: Jejak Sejarah yang Menginspirasi
Keadaan Masa Kerajaan Majapahit: Memahami Fondasi Ekonomi yang Kuat di Balik Kekuasaan
Percuma Habis Rp80 M, Partai Kaesang Tak Lolos Senayan!