Java Coffee pun menjadi simbol kualitas kopi dunia.
Namun, kejayaan kopi ini tidak lepas dari tantangan.
Di akhir abad ke-19, hama kopi melanda perkebunan di Indonesia, Sri Lanka, dan Malaysia.
Baca Juga: Firman Hertanto, Hotel Aruss Semarang dan Skandal Pencucian Uang Judi Online
Pemerintah Belanda beralih menanam kopi Robusta, yang lebih tahan hama.
Varietas ini kini mendominasi produksi kopi Indonesia.
Selain itu, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan membawa perubahan besar pada industri kopi Indonesia.
Perkebunan yang dulu dikuasai Belanda diambil alih oleh Jepang, dan setelah kemerdekaan, banyak perkebunan ditinggalkan.
Kini, 92% produksi kopi berada di tangan petani kecil dan koperasi.
Baca Juga: Manja Mooy dan Pratu Andi Tambaru, Cinta Terpisah Azal
Meskipun Indonesia menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia, ironi terjadi.
Kopi Arabika dan Robusta terbaiknya lebih banyak diekspor, sementara masyarakat lokal umumnya mengonsumsi kopi kelas dua.
Bahkan, biji kopi terbaik Indonesia kembali masuk ke pasar domestik melalui merek internasional seperti Starbucks.
Sejarah panjang kopi di Indonesia mencerminkan perjalanan penuh liku, dari Batavia hingga menjadi Java Coffee yang mendunia.
Baca Juga: Istana Bantah Video Viral Mayor Teddy Hormat ke Aguan, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya!