Namun, penting diingat bahwa konsumsi teh hijau harus dalam batas wajar.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan justru dapat memicu efek negatif, seperti stres oksidatif berlebihan yang merusak DNA, gangguan fungsi jantung, bahkan potensi risiko kanker.
Beberapa kasus bahkan menunjukkan toksisitas hati akibat konsumsi ekstrak teh hijau secara berlebihan.
Para peneliti menegaskan bahwa dosis optimal teh hijau masih perlu diteliti lebih lanjut melalui uji klinis pada manusia.
Meski banyak penelitian menggunakan organisme model seperti tikus dan cacing, hasilnya tidak selalu bisa diterapkan langsung pada manusia karena perbedaan metabolisme dan fisiologi.
Teh hijau, yang berasal dari tanaman Camellia sinensis, merupakan sumber polifenol yang jauh lebih tinggi dibandingkan teh hitam atau teh oolong.
Baca Juga: Ramai Imbauan WNI Kerja di Luar Negeri, Istana: Peluang Menarik, Tidak Perlu Diributkan
Selain kaya antioksidan, teh hijau juga mengandung kafein, mineral, dan asam amino yang bermanfaat bagi tubuh.
Di sisi lain, konsumsi teh hijau juga terbukti mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, menjaga kadar kolesterol, membantu penurunan berat badan, serta memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis kanker.
Polifenol teh hijau bahkan diketahui dapat membantu mengontrol kadar gula darah dan mendukung kesehatan metabolisme.
Meskipun manfaat teh hijau sangat besar, masyarakat disarankan untuk mengonsumsinya dalam dosis moderat, misalnya 2-3 cangkir per hari, sambil tetap menjaga pola makan sehat dan gaya hidup aktif.
Dengan konsumsi yang bijak, teh hijau bisa menjadi salah satu rahasia awet muda yang alami dan aman.
Namun, jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan ahli kesehatan jika ingin menjadikannya sebagai bagian rutin dalam pola hidup.***
Baca Juga: New Vario 125 2025 Facelift Tetap Mesin 11,4hp, Indonesia Duluan!