Gila! Danantara Suntik Rp1,5 Triliun untuk Serap Gula Petani, Pemerintah Siap Tindak Mafia Gula

photo author
Dadan Hamdani, Purwakarta Online
- Minggu, 31 Agustus 2025 | 14:05 WIB
Rp1,5 triliun digelontorkan Danantara untuk penyerapan gula petani. (BRI)
Rp1,5 triliun digelontorkan Danantara untuk penyerapan gula petani. (BRI)

Satgas Polri Sikat Mafia Gula

Selain memperkuat serapan, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar umum.

“Solusi yang lain lagi untuk mendukung serapan gula hari ini adalah penegakan hukum terhadap rembesan gula rafinasi, ini sedang berjalan bersama Satgas Pangan Polri. Sudah jadi target dan perhatian kami,” kata Ketut tegas.

Praktik rembesan gula rafinasi disebut merugikan petani lokal karena menekan harga gula kristal putih di pasaran.

Baca Juga: Sinopsis Film Shattered (2007), Teror Menegangkan dari Pierce Brosnan!

Harga Acuan Pembelian Harus Dipatuhi

Ketut menegaskan bahwa Harga Acuan Pembelian (HAP) gula petani telah ditetapkan Rp14.500 per kilogram.

“Kalau ada yang masih jual di bawah harga itu, laporkan ke kami. Pemerintah sudah kasih ruang supaya kita sama-sama bangun kekuatan petani,” tegasnya.

Produksi Gula Nasional Masih Kalah Jauh

Produksi gula Indonesia periode 2024/2025 diproyeksikan mencapai 2,6 juta ton, menjadikannya produsen terbesar kedua di ASEAN setelah Thailand (10 juta ton).

Meski lebih tinggi dibanding Filipina (1,8 juta ton) dan Vietnam (1,1 juta ton), angka ini menunjukkan Indonesia masih rentan krisis pasokan, apalagi jika mafia gula terus bermain.

Intervensi Danantara lewat Rp1,5 triliun dana segar untuk menyerap gula petani menjadi angin segar di tengah keresahan harga dan serapan yang stagnan.

Baca Juga: Karyawan Terjerat Pinjol, Perusahaan Ikut Dikejar Debt Collector! Bennix Bongkar Fakta Ngeri

Namun, pemerintah harus memastikan dua hal berjalan beriringan: perlindungan petani melalui HAP dan penegakan hukum tegas terhadap rembesan gula rafinasi.

Jika tidak, produksi 2,6 juta ton gula nasional bisa jadi hanya angka di atas kertas, sementara petani tetap tercekik dan konsumen masih menjerit.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dadan Hamdani

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X