PURWAKARTA ONLINE - Pada hari Minggu, 8 Desember 2024, dunia dikejutkan oleh peristiwa besar di Suriah: pasukan pemberontak berhasil merebut ibu kota Damaskus, menggulingkan rezim yang telah berkuasa selama lebih dari lima dekade.
Presiden Bashar al-Assad, yang telah memimpin Suriah sejak 2000, dilaporkan melarikan diri menggunakan pesawat setelah kekuatan pemberontak menyerbu kota tersebut.
Kelompok yang bertanggung jawab atas serangan dan penggulingan rezim Assad ini adalah Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), sebuah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Abu Mohammed Al Julani.
HTS dikenal sebagai salah satu kelompok yang terlibat dalam konflik sengit di Suriah dan telah lama berusaha untuk menggulingkan kekuasaan Assad yang dianggap otoriter dan represif.
Baca Juga: PBNU Hargai Keputusan Gus Miftah Mundur dari Kabinet, Diduga Karena Video Viral!
Serangan dimulai dengan bentrokan hebat di garis depan antara wilayah yang dikuasai pemberontak di Idlib dan Aleppo. Pada 27 November, pasukan oposisi melancarkan serangan besar-besaran yang memaksa pasukan pro-pemerintah Suriah mundur.
Dalam beberapa hari, pemberontak berhasil menguasai kota terbesar kedua di Suriah, Aleppo, dan menyerbu Damaskus, memicu pelarian Presiden Assad.
Kemenangan ini bukan hanya sekadar kemenangan militer, tetapi juga simbol runtuhnya kekuasaan keluarga Assad yang telah berkuasa selama lebih dari 53 tahun.
Kekuasaan yang dimulai oleh ayahnya, Hafez al-Assad, yang memimpin Suriah dengan tangan besi sejak 1970 hingga meninggal pada 2000, kini berakhir dengan kekalahan monumental.
Baca Juga: Bojan Hodak Akui Tantangan Besar Hadapi PSS Sleman
Bashar al-Assad yang menjadi presiden setelah kematian sang ayah melalui pemilihan umum kontroversial, dinilai tidak mampu mempertahankan dukungan internasional maupun domestik.
Meski sempat berusaha menampilkan dirinya sebagai sosok yang lebih moderat, Assad tetap mempertahankan hubungan dengan kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah, yang menjadi sorotan dunia internasional.
Keputusan politiknya dan tindak kekerasannya terhadap protes-protes damai yang dimulai pada 2011 mengubah Suriah menjadi medan perang yang penuh dengan tragedi kemanusiaan.
Menurut laporan terbaru, Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, menyebut bahwa Assad melarikan diri karena tidak mendapatkan dukungan dari Rusia, sekutu utama rezim Suriah.
Baca Juga: PSS Sleman vs PERSIB, Duel Sengit di Pekan Ke-13 Liga 1 2024/25
Artikel Terkait
Tak Ingin Lagi! Tiga Pernyataan Penting soal Pengunduran Diri Gus Miftah
Bukan Karena Kasus Itu Saja! Pernyataan-Pernyataan Penting soal Pengunduran Diri Gus Miftah
Mundurnya Gus Miftah Diduga Karena Video Viral! Ini Pernyataan Pengunduran Diri Gus Miftah
Tips Adu Suit Lazada 12.12, Game Interaktif Berhadiah Voucer Total Rp130 Juta!
Promo 12.12 Lazada: Diskon Besar, Flash Sale, dan Voucer Jutaan
Adu Suit Lazada dan Promo 12.12, Kombinasi Sempurna untuk Belanja Hemat
Suit Lazada 12.12: Tips Cara Bermain, Jadwal, dan Hadiah Menarik
Cara Mengobrol dengan Meta AI di WhatsApp
Panduan Lengkap Menggunakan Meta AI di WhatsApp
Gus Miftah Mundur dari Jabatan Staf Khusus Presiden, Diduga Karena Video Viral, Kurangi Beban Istana Menghadapi Polemik