Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, yang sempat mengunjungi keluarga dokter Aulia di Tegal, mengungkapkan bahwa ayah dokter Aulia memang dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.
"Yang wafat adalah bapaknya. Dia masuk rumah sakit sesudah kematian putrinya. Sudah, lah, enggak enak kita ngomonginnya," ujar Budi dengan nada berduka.
Meskipun pihak kampus dan kepolisian menyatakan masih mendalami dugaan perundungan, keluarga dokter Aulia dan sebagian besar masyarakat tetap meyakini bahwa bullying yang dialami dokter muda ini menjadi penyebab utama keputusannya mengakhiri hidup.
Media sosial juga dipenuhi dengan ungkapan dukungan dan rasa duka cita dari berbagai kalangan.
Akun Twitter @bambangsuling11, yang pertama kali mengungkap kronologi kematian dokter Aulia, menyebutkan bahwa korban kemungkinan besar menyuntikkan dirinya sendiri dengan obat bius sehari sebelum ditemukan meninggal.
Baca Juga: Bapak Dokter Aulia Risma Meninggal Dunia Setelah Kepergian Putrinya
Kabar tentang adanya perundungan di kalangan peserta PPDS memang bukan hal baru.
Tekanan mental yang dialami mahasiswa kedokteran, terutama di program spesialisasi, seringkali menjadi perbincangan di balik layar.
Namun, kasus ini menjadi bukti nyata betapa beratnya tekanan tersebut, yang bahkan bisa berujung pada kematian.
Hingga saat ini, pihak kampus dan kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan perundungan yang dialami dokter Aulia.
"Mudah-mudahan minggu ini diumumkan, nanti akan diumumkan bersama dari Kemenkes dan kepolisian mengenai hasilnya. Minggu ini hasilnya,” ungkap Menkes Budi, pada 26 Agustus 2024, sehari sebelum kepergian ayah dokter Aulia.
Kematian dokter Aulia menjadi cerminan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh para peserta PPDS. Bukan hanya tuntutan akademik, tetapi juga tekanan sosial dan mental yang kerap kali tidak terlihat di permukaan.
Baca Juga: Dokter Aulia (PPDS) Mati Tragis, Sungguh Ironis Sang Ayah Menyusul!
Kepergian dokter Aulia dan ayahnya seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan kedokteran di Indonesia untuk lebih memperhatikan kondisi mental para mahasiswanya.
Artikel Terkait
Dokter Cantik Dikira Artis, Antar Binzein dan Abang Ijo Daftar Pilkada Purwakarta!
Beberapa LSM Bantu Amankan Pendaftaran Binzein dan Bang Jo ke KPU Purwakarta
Gerakan Tani Nelayan Purwakarta Solid Dukung Binzein-Bang Ijo di Pilkada 2024, Bersama Ribuan Massa Antar ke KPU
Prabowo Subianto Ajak Masyarakat Hargai Prestasi Pemimpin dan Jaga Persatuan Demi Kemajuan Indonesia
Prabowo Subianto Tegaskan Pentingnya Persatuan Pasca Pilpres 2024
Anies Baswedan Gagal Diusung PDIP, Peluang Maju Pilgub DKI Jakarta 2024 Semakin Menipis
PDIP Tinggalkan Anies Baswedan, Malah Usung Pramono Anung-Rano Karno di Pilgub Jakarta 2024
Menantu Sombongkan Fasilitas, Pejabat Tinggi se-Indonesia Ketar-Ketir!
Dokter Aulia (PPDS) Mati Tragis, Sungguh Ironis Sang Ayah Menyusul!
Kang Dedi Mulyadi Calon Gubernur Jawa Barat Dukung Binzein-Bang Ijo di Pilkada Purwakarta 2024