Ia menuturkan kisah-kisah yang diwariskan leluhurnya, yang menyatakan bahwa daerah tersebut menjadi tempat peristirahatan bagi raja setelah pertempurannya.
Sejak tahun 2006, pengunjung dari berbagai daerah di Jawa datang untuk mempelajari sejarah dan memberikan penghormatan terakhir.
“Meskipun jumlahnya masih sedikit, kami melihat banyak orang dari berbagai kalangan, baik tokoh penting maupun warga biasa, datang ke sini untuk berziarah ke makam,” imbuhnya.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Oktober 2024 Naik Jadi 151,2 Miliar Dolar AS
Sebuah Ziarah untuk Menghormati Sejarah
Bagi sebagian orang, makam ini bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga memiliki makna spiritual yang dalam.
Edi Triyono (59), seorang pengunjung asal Banten, menceritakan kisahnya saat diutus orang tuanya untuk memanjatkan doa di makam tersebut.
“Orang tua saya meminta saya datang ke sini untuk berdoa dan belajar tentang sejarah,” kata Edi singkat, menunjukkan rasa hormatnya terhadap situs tersebut.
Melestarikan Masa Lalu untuk Masa Depan
Makam Prabu Amuk Marugul tidak hanya merupakan peninggalan Kerajaan Japura, tetapi juga kisah-kisah masa lalu daerah tersebut yang belum terungkap.
Namun, sebagian besar potensinya masih belum dimanfaatkan.
Baca Juga: Rupiah Menguat, Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp15.800–Rp15.900
Dengan perhatian yang tepat dari pemerintah daerah dan para ahli sejarah, situs ini dapat menjadi tujuan wisata yang menonjol bagi para penggemar sejarah dan wisatawan budaya.
Perpaduan antara mistisisme dan sejarahnya menawarkan jendela unik ke masa lalu Cirebon Timur.
Di era di mana sejarah sering kali dibayangi oleh modernitas, tempat-tempat seperti makam Prabu Amuk Marugul mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan dan menghargai warisan budaya kita.