Selain kisah mistis, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas memang sering terjadi di kawasan Sasak Beusi.
Kondisi jalan dari arah Ciganea menuju jembatan menurun curam, menikung tajam, dan cukup berbahaya jika pengendara tidak berhati-hati.
Beberapa insiden yang pernah terjadi di lokasi ini di antaranya truk trailer yang terguling, tabrakan beruntun, hingga kecelakaan tunggal dengan korban jiwa.
Tak jarang, peristiwa itu kemudian dihubungkan dengan hal mistis dikalangan masyarakat yaitu keberadaan sosok wanita merah.
“Kalau dilihat logika, jalannya memang rawan. Tapi kalau dihubungkan dengan cerita mistis, jadi terasa makin menyeramkan,” tambah seorang pengendara yang pernah melintas.
Baca Juga: Jalan Panjang Menuju MBG yang Ideal: Antara Gizi, Kritik, dan Cita-cita Mulia
Sejarah Panjang Sasak Beusi
Menurut sejarawan Purwakarta, Ahmad Zahid Widodo, Sasak Beusi dibangun pada masa pemerintahan Bupati RAA Adiningrat II (1863–1886) bersama Resident LWC Bosscha pada tahun 1868.
Awalnya jembatan hanya satu jalur, namun kemudian ditambah jalur baru pada 1977 dan 2000-an.
Meski sudah ada jembatan baru, sebagian struktur lama masih menggunakan batu bata peninggalan jembatan asli.
Keunikan inilah yang membuat Sasak Beusi bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga menyimpan aura mistis yang tak lekang oleh waktu.
Widodo juga menuturkan bahwa sejak masa Orde Baru, jembatan ini dianggap rentan karena diperkirakan tak akan bertahan lebih dari 100 tahun.
Meski begitu, hingga kini Sasak Beusi tetap berdiri dan terus menjadi jalur penting lalu lintas Purwakarta.
Baca Juga: Kurang Rp300 Miliar, Bupati Purwakarta Minta Anggaran 2026 Fokus untuk Pelayanan Masyarakat
Antara Mitos dan Fakta