Purwakarta Online - Ali Musthofa, seorang pemandu wisata di Gunung Rinjani, tiba-tiba jadi sorotan setelah dugaan terkait penelantaran pendaki Brasil, Juliana Marins, muncul.
Menurut pengakuan beberapa pendaki, dia sempat memutuskan untuk melanjutkan pendakian padahal rombongannya belum lengkap.
Media sosial Brasil sempat ramai berspekulasi, namun belum ada pernyataan resmi dari Basarnas atau pihak kepolisian yang mengonfirmasi tudingan tersebut.
Polisi kabarnya sedang mengundang Ali untuk diperiksa, terkait kecocokan jadwal dan kesaksian saksi di lapangan.
Baca Juga: Banyak yang Gagal Dapat BSU 2025, Ternyata Ini Penyebab Sebenarnya!
Ali yang juga aktif mengunggah dokumentasi pendakian via TikTok dan Instagram mencoba memberi klarifikasi, namun tanggapannya belum cukup memuaskan publik Brasil yang menuntut transparansi.
Sabtu, 21 Juni 2025: Juliana (27), pendaki asal Brasil, dilaporkan jatuh di jalur Cemara Tunggal—jalur menuju Danau Segara Anak via Sembalun.
Cuaca ekstrem & kabut tebal: drone mendeteksi Juliana masih bernyawa dengan posisi duduk, sempat terdengar teriakan tolong.
Proses evakuasi tertunda karena medan terjal (!600 m) dan keterbatasan peralatan vertical rescue.
Baca Juga: Ramai Vario 160 dan Stylo 160 Berkarat, Konsumen Minta Honda Jelaskan Kualitas Produknya
Selasa, 24 Juni 2025: jasad Juliana ditemukan sekitar pukul 22.00 WITA di kedalaman 600 m.
Rabu, 25 Juni 2025: jenazah dievakuasi via vertical lifting dan helikopter ke RS Bhayangkara NTB.
Abdul Haris Agam, pemandu lokal dan relawan SAR, tampil sebagai figur penentu dalam evakuasi. Media dan netizen Brasil menyebutnya “pahlawan”, berkat:
Menuruni jurang sedalam 600 m sambil membawa jenazah dengan tali vertical.