PURWAKARTA ONLINE – Kesenian Genye, salah satu warisan budaya khas Kabupaten Purwakarta, mengalami berbagai transformasi dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan penelitian oleh Kania Rahmatul Ulum, Endang Caturwati, dan Enok Wartika dari ISBI Bandung (2021), transformasi ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Salah satu perubahan signifikan adalah penggunaan properti.
Awalnya, topeng menjadi elemen utama, namun kini digantikan dengan bongsang dan ayakan, menambah nilai artistik yang unik.
Baca Juga: Sinopsis dan Jadwal Tayang Asmara Gen Z Episode 50, Kisah Cinta Segitiga yang Bikin Penasaran
Sayangnya, dari sisi koreografi dan musik, Genye belum mencapai standar yang diharapkan.
Musik iringan Genye memadukan instrumen tradisional seperti kendang dan tarompet dengan lagu-lagu modern seperti "Sate Maranggi" dan "Kopi Dangdut".
Meski inovatif, belum ada komposisi yang baku untuk pembuka dan penutup.
Untuk menjadikan Genye sebagai ikon Purwakarta, diperlukan upaya pelestarian melalui pendidikan formal dan nonformal.
Baca Juga: Heboh! Pembatalan Kelulusan CPNS Kemenag 2024 Gegerkan Ribuan Peserta, Ini Alasannya!
Pendalaman tema, koreografi, dan pola musik menjadi kunci agar seni ini benar-benar mewakili identitas budaya Purwakarta.***