Selain itu, kesulitan ekonomi dan dampak dari sanksi internasional turut memperburuk keadaan. Meskipun Assad masih didukung oleh beberapa sekutu utama seperti Rusia dan Iran, dukungan ini mulai memudar ketika negara-negara Barat semakin mengisolasi Suriah.
Beberapa pihak percaya bahwa kejatuhan Bashar al-Assad tidak hanya disebabkan oleh kekuatan pemberontak, tetapi juga oleh berkurangnya dukungan dari negara-negara besar yang sebelumnya memberikan bantuan militer dan diplomatik kepada Suriah.
Pada 27 November 2024, koalisi pemberontak yang terdiri dari kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah-pecah, melancarkan serangan yang berhasil merebut wilayah-wilayah penting, termasuk ibu kota Damaskus, yang sebelumnya dianggap sebagai benteng terakhir bagi pemerintahan Assad.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kegagalan pemerintah Suriah untuk mempertahankan stabilitas internal dan mengatasi perpecahan yang terjadi di kalangan pasukan dan pemerintah.
Baca Juga: Damaskus Jatuh ke Tangan Pemberontak, Presiden Suriah Bashar Al-Assad Dikabarkan Melarikan Diri!
Pemberontak berhasil menggulingkan kekuasaan Assad, yang selama lebih dari satu dekade telah mempertahankan kontrol atas negara tersebut dengan cara-cara yang keras dan represif.
Kejatuhan Assad menjadi simbol dari kegagalan pemerintahan otoriter yang tidak mampu merangkul semua lapisan masyarakat.
Dengan runtuhnya rezim Assad, masa depan Suriah kini menjadi sangat tidak pasti. Pemberontak yang berhasil merebut kekuasaan menghadapi tantangan besar dalam membangun pemerintahan yang stabil di tengah-tengah kehancuran dan perpecahan yang terjadi di negara tersebut.
Sementara itu, masyarakat Suriah yang telah lama menderita akibat perang saudara harus berjuang untuk mengembalikan kedamaian dan kehidupan yang lebih baik di negara mereka.
Baca Juga: PSS Sleman vs PERSIB, Duel Sengit di Pekan Ke-13 Liga 1 2024/25
Bashar al-Assad, yang kini dilaporkan melarikan diri dari negara tersebut, meninggalkan warisan yang penuh kontroversi.
Kepemimpinannya yang otoriter dan kebijakan luar negeri yang konfrontatif telah meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Suriah.
Namun, kejatuhannya juga membuka peluang bagi perubahan besar yang mungkin membawa arah baru bagi negara yang telah lama dilanda perang ini.
Apakah Suriah akan menemukan jalan menuju perdamaian, atau akan terus terperangkap dalam kekacauan politik? Hanya waktu yang akan memberi jawabannya.
Baca Juga: Bojan Hodak Akui Tantangan Besar Hadapi PSS Sleman