Salah satu kontroversi terbesarnya adalah kritiknya terhadap Bahar bin Smith, seorang habib sekaligus ulama terkenal.
Guru Gembul menafsirkan kemampuan Bahar dalam membaca kitab kuning, menyebutnya sebagai “ulama gadungan,” dan bahkan meremehkan nasab Bahar sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Ketegangan ini memanas ketika Rhoma Irama dan Zein Assegaf juga mendukung pernyataan Guru Gembul.
Baca Juga: Meta AI di WhatsApp: Fitur Baru yang Harus Anda Coba!
Bahkan mereka menantang Bahar untuk melakukan tes DNA demi membuktikan klaim nasabnya.
Bahar merespons dengan syarat tertentu, namun perseteruan ini terus menjadi bahan perbincangan panas di media sosial.
Tak hanya itu, Guru Gembul juga menyoroti sistem pendidikan Indonesia.
Ia mengkritik gaji guru yang rendah dan kualitas lulusan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang dianggapnya tidak kompeten.
Pernyataan ini memicu reaksi keras dari lima aktivisme pendidikan yang melayangkan somasi.
Namun, masalah tersebut akhirnya diselesaikan secara damai dengan kesepakatan bahwa hanya "sebagian kecil guru yang tidak kompeten."
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Oktober 2024 Naik Jadi 151,2 Miliar Dolar AS
Pemikiran Filosofis yang Mengundang Perdebatan
Selain kritik sosial, Guru Gembul juga dikenal melalui pandangan filosofisnya yang kontroversial.
Pada tahun 2024, ia pernah mengatakan, “Semua sistem indrawi kita ini sering berbohong atau dikibulin atau eror, kalau begitu maka dia tidak layak, tidak cocok untuk menjadi sumber informasi yang terpercaya.”
Pernyataan ini memicu tanggapan dari Abdul Muin Banyal , seorang alumnus Universitas Minnesota.