Sekitar pukul 10 pagi, ia melihat Dea keluar rumah untuk berbelanja.
“Dia sempat bilang buru-buru mau jemur pakaian karena mau hujan,” cerita Salbiah.
Sekitar pukul 13.00 WIB, Salbiah mendengar teriakan histeris Ade.
Baca Juga: BRI Peduli Hidupkan Program Literasi Anak Negeri di NTB, Angkat Minat Baca Siswa Daerah Tertinggal
“Ibu-ibu, Bu Dea dibunuh!” teriaknya.
Warga bergegas mendatangi rumah Dea.
Namun, begitu sampai di pintu, Salbiah melihat jejak darah dan takut untuk masuk lebih jauh.
Rasa Terkejut dan Pengkhianatan
Bagi keluarga korban, penangkapan Ade Mulyana terasa seperti tikaman dari belakang.
Baca Juga: Bukan Main-main Inimah 81,47 Juta Data Pelanggan JNE Diduga Bocor di Forum Gelap, Dijual Rp32 Juta
Ibunda Dea, Yuli Ismawati (55), mengaku tidak pernah curiga terhadap Ade.
“Dia kami anggap seperti keluarga. Selama ini tidak pernah ada masalah,” ujarnya.
Fery Riyana pun mengaku, meski awalnya tak sepenuhnya percaya, ia tetap membiarkan Ade tinggal di rumah dan mendapat makan, rokok, serta uang saku.
“Kalau mau pulang ke orang tuanya, biasanya kami kasih Rp100 ribu atau Rp200 ribu,” kata Fery.
Baca Juga: Masalah Royalti Kini Dalam Puncaknya Gratiskan Semua lagu Tompi Putuskan Keluar Dari WAMI