Seminggu kemudian, pada 12 Agustus siang, Dea ditemukan tewas di rumahnya.
Detik-Detik Tragis di Jatiluhur
Saksi mata, Salbiah, tetangga korban, menceritakan pagi sebelum pembunuhan, Dea terlihat normal dan sempat bertegur sapa.
Baca Juga: Drama Ade Mulyana Kaburkan Fakta Pembunuhan Dea Permata Karisma di Jatiluhur Purwakarta
Beberapa jam kemudian, Ade berlari keluar rumah sambil berteriak, “Bu Dea dibunuh!”
“Saya mau masuk, tapi di depan pintu dapur sudah ada jejak darah. Takut, saya mundur lagi,” kata Salbiah.
Motif Utama Sakit Hati Soal Gaji
Menurut Kapolres, motif utama pembunuhan adalah sakit hati karena gaji yang belum dibayar.
Ade juga sempat membuang barang bukti seperti ponsel korban ke bawah Jembatan Cinangka dan ke drainase sekitar Waduk Jatiluhur.
Baca Juga: BRI Peduli Tingkatkan Literasi Anak Negeri di NTB Lewat Program CSR Berbasis Pendidikan
Barang bukti yang disita polisi antara lain palu bergagang hitam, taplak meja coklat, dua ponsel, dan sepeda motor Honda Karisma hitam.
Ade dijerat Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Keluarga Merasa Dikhianati
Ibunda korban, Yuli Ismawati (55), tak menyangka pelaku adalah orang yang selama ini dianggap keluarga.
“Orang yang diberi makan, rokok, uang, malah menghabisi anak saya,” ujarnya dengan suara bergetar.