PURWAKARTA ONLINE - Indonesia kaya akan sumber daya alam. Namun, alih-alih membawa kesejahteraan, cara kita mengelolanya justru meninggalkan luka yang dalam bagi lingkungan.
Inilah bahaya dari ekonomi ekstraktif yang selama ini jadi andalan pembangunan.
Direktur Eksekutif Celios, Bima Yudhistira, menegaskan bahwa ekonomi berbasis pengerukan alam lebih banyak merugikan dibanding menguntungkan.
“Kalau bicara ekonomi makro saja kita sudah rugi. Belum lagi eksternalitas negatif: kesehatan, ekosistem, semuanya ikut hancur,” tegas Bima.
Baca Juga: Libur Nasional September 2025: Long Weekend Maulid Nabi Muhammad SAW
Luka Alam dari Tambang dan Ekspor Komoditas
Tambang nikel, batu bara, maupun pembukaan lahan sawit telah merubah wajah alam Indonesia:
- Hutan gundul karena pembukaan lahan besar-besaran.
- Tanah kritis dan longsor akibat penambangan tak terkendali.
- Air tercemar dari limbah tambang.
- Kesehatan masyarakat terganggu oleh polusi udara dan air.
Kerusakan lingkungan ini bukan hanya soal keindahan alam yang hilang, tetapi juga mengancam keberlanjutan hidup generasi mendatang.
Baca Juga: Ekonomi Ekstraktif Bikin Indonesia Rapuh Saatnya Bangun Institusi Inklusif
Pertumbuhan Ekonomi yang Menyisakan Kerusakan
Meski kontribusi ekspor tambang dan komoditas menyumbang pada pertumbuhan ekonomi, sifatnya tidak berkelanjutan.
Harga global yang naik-turun membuat Indonesia rapuh, sementara kerusakan lingkungan tetap tinggal.
“Siapa yang tahu harga nikel hancur seperti hari ini?” kata Bima. Cadangan terbesar pun tidak berarti Indonesia bisa menguasai harga.
Hasilnya, kerusakan alam permanen ditukar dengan keuntungan sementara.