Ekonomi Ekstraktif Rusak Lingkungan, Indonesia Butuh Jalan Ekonomi Restoratif

photo author
Dadan Hamdani, Purwakarta Online
- Rabu, 3 September 2025 | 14:05 WIB
BRI maknai Hari Kebangkitan Nasional dengan dorong UMKM, Agen BRILink, dan Desa BRILiaN demi ekonomi Indonesia kuat (Dok. Bank BRI)
BRI maknai Hari Kebangkitan Nasional dengan dorong UMKM, Agen BRILink, dan Desa BRILiaN demi ekonomi Indonesia kuat (Dok. Bank BRI)

Baca Juga: Dampak Globalisasi Pada Struktur Sosial Masyarakat

Teori Acemoglu–Robinson: Inklusif vs Ekstraktif

Ekonom Daron Acemoglu dan James Robinson menjelaskan, negara gagal menjadi maju bukan karena miskin sumber daya, melainkan karena memilih institusi ekstraktif.

  • Institusi ekstraktif → hanya menguntungkan segelintir elite, mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan rakyat dan lingkungan.
  • Institusi inklusif → melibatkan partisipasi masyarakat luas, mendorong inovasi, melindungi hak-hak warga, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya.

Negara dengan institusi ekstraktif cenderung merusak lingkungan demi keuntungan jangka pendek.

Sebaliknya, negara dengan institusi inklusif justru bisa membangun ekonomi hijau yang lebih tahan lama.

Baca Juga: Sumut Memanas! OKP Lintas Iman Bersatu Lawan Aksi Anarkis, TNI-Polri Diminta Lebih Persuasif

Ekonomi Restoratif: Jalan Keluar dari Krisis Lingkungan

Menurut Bima, Indonesia harus segera meninggalkan pola ekstraktif.

Ekonomi restoratif menjadi solusi, yakni model ekonomi yang mengutamakan keberlanjutan, konservasi, dan pelibatan masyarakat adat serta ilmuwan dalam pengelolaan sumber daya.

“Cukup sudah dengan ekstraktif. Kita punya pilihan yang lebih baik,” ujarnya. Kerusakan lingkungan akibat ekonomi ekstraktif adalah alarm keras bagi Indonesia.

Jika terus dibiarkan, hutan hilang, tanah rusak, air tercemar, dan masyarakat sakit. Pertumbuhan ekonomi pun jadi semu.

Saatnya beralih ke institusi inklusif dan ekonomi restoratif agar pembangunan tidak lagi merusak, tapi menyembuhkan bumi dan menyejahterakan rakyat.

Baca Juga: Jumlah Episode Rintik Terakhir di Viu: Ternyata Cuma Segini!

Ekonomi ekstraktif bikin hutan gundul, air tercemar, dan kesehatan terganggu. Indonesia harus beralih ke ekonomi restoratif demi masa depan berkelanjutan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dadan Hamdani

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X