Sementara itu, pakar politik Lili Romli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai peristiwa ini sebagai pelajaran bagi Presiden Prabowo dalam memilih pejabat publik.
Lili mengingatkan pentingnya selektivitas dalam memilih pejabat, bukan hanya mempertimbangkan kapasitas, tetapi juga integritas dan moralitas yang harus dimiliki oleh setiap pejabat negara.
Namun, tak semua pihak sepakat dengan keputusan Gus Miftah untuk mundur. Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid menilai bahwa Gus Miftah sebenarnya masih bisa memberikan kontribusi besar dalam tugas kerukunan umat beragama.
Ia berharap Presiden Prabowo tidak menerima pengunduran diri Gus Miftah, karena ia melihat bahwa Gus Miftah memiliki potensi besar dalam mendukung program-program kerukunan umat.
Baca Juga: Realme C75, Smartphone Entry-Level Tahan Air dan Tahan Debu Pertama di Indonesia
Selain Gus Miftah, nama selebgram Clara Shinta, yang kini dikenal dengan nama Amira Nurul Aulia setelah hijrah, juga ikut terseret dalam kontroversi ini.
Clara, yang diduga terlibat dalam penyebaran video viral Gus Miftah, menjadi sorotan publik. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar di media sosial dan juga seorang pengusaha sukses.
Meski belum ada konfirmasi resmi terkait keterlibatannya dalam penyebaran video tersebut, Clara kini harus menghadapi reaksi beragam dari publik terkait perannya dalam kasus ini.
Dengan berbagai kejadian ini, nama Ustaz Adi Hidayat semakin mencuat sebagai salah satu sosok yang mungkin akan menduduki posisi yang ditinggalkan oleh Gus Miftah.
Baca Juga: Prabowo Rekrut UAH Gantikan Miftah Maulana, Pembelajaran Berharga untuk Pejabat Publik
Pendekatan dakwah yang moderat, ilmu agama yang luas, dan pengaruhnya di kalangan masyarakat menjadikan UAH sosok yang diperhitungkan untuk melanjutkan tugas penting dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.
Namun, siapa yang akan menggantikan Miftah secara resmi masih menunggu keputusan Presiden Prabowo Subianto.***