Bashar al-Assad, yang mempertahankan hubungan erat dengan kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah, telah menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak, termasuk Rusia yang sebelumnya menjadi sekutu utama.
Menurut Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, keputusan Assad untuk meninggalkan Suriah disebabkan oleh kurangnya dukungan dari Rusia.
Hal ini menambah lapisan kompleksitas dalam situasi yang semakin tidak menentu. Runtuhnya kekuasaan Bashar al-Assad menandai akhir dari sebuah era.
Selama lebih dari dua dekade, ia mempertahankan kontrol melalui kebijakan represif, sambil memperingatkan negara-negara Barat agar tidak mendukung pemberontak yang memerangi pasukannya.
Baca Juga: PSS Sleman Tantangan PERSIB di Manahan Solo
Namun, kini dengan kepergian Assad, dunia menyaksikan sebuah momen bersejarah yang mungkin menjadi titik balik bagi Suriah.
Meskipun kemenangan oposisi ini dianggap sebagai kemenangan bagi rakyat Suriah, tantangan besar tetap menghadang negara yang telah hancur oleh perang ini.
Pertanyaan besar tentang siapa yang akan mengambil alih kekuasaan dan bagaimana proses rekonstruksi serta perdamaian akan berlangsung kini menjadi isu utama yang harus segera diatasi oleh komunitas internasional.***