Saat Miftah memberikan keterangan, terlihat beberapa ekor lalat mengerubungi kepalanya. Gus Miftah yang tampak terganggu oleh kehadiran lalat-lalat tersebut berusaha mengusirnya dengan tangannya.
Kejadian ini pun menjadi bahan olokan di media sosial, bahkan ada yang mengaitkan lalat tersebut sebagai simbol takdir yang ikut "mengganggu" Gus Miftah dalam momen mundurnya dari jabatan tersebut.
Mundurnya Gus Miftah pun langsung menjadi bahan perbincangan netizen, yang merasa bahwa video tersebut menjadi hiburan tersendiri.
Tak sedikit dari mereka yang merasa gemas dan melontarkan komentar-komentar satire tentang keputusannya dan kehadiran lalat tersebut.
Baca Juga: Tesis KH Imaduddin Utsman PDF! Nasab Baalawi Putus, Kontroversi Besar di Dunia Islam Indonesia
Banyak yang mempertanyakan apakah pengunduran diri ini merupakan langkah yang bijak atau sekadar strategi untuk menghindari lebih banyak kecaman.
Kritik yang datang tak hanya datang dari kalangan netizen biasa, tetapi juga dari aktivis dan tokoh masyarakat.
Kalis Mardiasih, seorang aktivis perempuan dan penulis buku, menulis di media sosialnya, "Eggak ada pantas-pantasnya manusia yang merendahkan martabat kemanusiaan yang liyan dititipi kekuasaan tertinggi buat ngurusi isu toleransi.
Digaji mahal pakai APBN, menghinakan rakyat yang menggaji. Ora nduwe isin! PECAT." Keputusan Miftah Maulana Habiburrahman untuk mundur dari jabatan Utusan Khusus Presiden ini menjadi peringatan bagi tokoh publik lainnya bahwa ucapan dan tindakan mereka sangat berpengaruh pada citra dan posisi mereka di mata masyarakat.
Baca Juga: Kepala Gus Miftah Saat Umumkan Mundur Jadi Hiburan Netizen
Dalam dunia yang serba terbuka dan mudah mengakses informasi, setiap tindakan atau perkataan bisa dengan cepat menjadi viral dan mendapatkan respons yang tak terduga.***