"Mobilitas petani di lahan harus diperbaiki. Pemerintah, Perhutani, dan LMDH harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Petani butuh akses jalan yang baik agar bisa angkut pupuk dan hasil panen," tegasnya.
Baca Juga: Bojan Hodak: Pertandingan yang Sulit Usai PERSIB Menang 2-1 atas PSIS Semarang
Branding Kopi Purwakarta
Zaenx juga menyoroti kurangnya pengakuan terhadap kopi Purwakarta di pasaran.
Meskipun banyak kopi dari daerah ini yang sudah dipasarkan di kafe-kafe, nama kopi Purwakarta belum dikenal luas karena kalah dalam branding.
Ia berharap pemerintah, khususnya Disporparbud, dapat merancang regulasi agar kafe-kafe di Purwakarta lebih mendukung pemasaran kopi lokal.
"Kopi yang dijual di kafe-kafe itu banyak yang berasal dari Purwakarta, tapi karena kalah branding, namanya kurang dikenal. Mudah-mudahan Disporparbud bisa bantu rancang regulasi untuk memasarkan dan packaging kopi lokal kita," ujar Zaenx.
Baca Juga: Dede Warsid: Hadjat Tani Kopi Sukses, Tapi Koordinasi Perlu Diperbaiki
Namun, ia optimis bahwa kopi Purwakarta mampu bersaing di pasar karena kualitas rasa yang dimilikinya.
"Kami tidak gentar untuk bersaing. Kopi kita unggul di segi rasa, masalahnya hanya satu, kita belum punya nama besar," tegasnya.
Promosi Wisata
Selain mendukung para petani, Hajat Tani Kopi juga dianggap berhasil mempromosikan wisata lokal Desa Pusakamulya.
Banyak pengunjung yang tertarik hadir, meskipun tidak semua mendapatkan informasi tentang acara tersebut.
Baca Juga: Drakor Queen Woo Episode 7-8: Konflik Makin Memanas, Terungkapnya Rahasia di Treasure Island!
"Acara ini sangat membantu promosi wisata. Antusiasme pengunjung luar biasa, banyak yang tertarik hadir tapi tidak semua mendapatkan informasi," ungkap Zaenx.