Penurunan Jumlah Petani dan Lahan Pertanian
Persoalan besar lainnya adalah makin sedikitnya warga yang berusaha di sektor pertanian serta menipisnya lahan pertanian.
Sensus Pertanian 2023 mencatat jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) turun 7,45% dibandingkan 2013, sementara jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) naik 8,74%.
Namun, jumlah petani milenial yang berumur 19-39 tahun hanya 21,93%, dengan mayoritas petani didominasi generasi X.
Selain itu, jumlah petani terus berkurang karena rendahnya minat generasi muda, disebabkan oleh pendapatan yang kecil.
Data BPS menunjukkan upah nominal buruh tani pada Desember 2023 hanya Rp68.900 per hari.
Lahan pertanian juga terus menyusut, dari 8,07 juta hektar pada 2009 menjadi 7,46 juta hektar pada 2019.
Alih fungsi lahan untuk pemukiman, industri, dan infrastruktur semakin mengancam ketahanan pangan.
Dampaknya, produktivitas pangan menurun dan ketahanan pangan bangsa rawan terancam.
Baca Juga: Guru Gembul Sesat? Kontroversial dengan Ide Cerdas di YouTube vs Realita Gaji Guru Honor
Pro Kontra Food Estate
Program food estate yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo bertujuan menambah lahan pertanian dan menciptakan lumbung pangan nasional.
Namun, program ini menuai pro-kontra karena dinilai gagal dan menyajikan data yang tidak valid.
Banyak kritikan yang menyebutkan program ini menimbulkan masalah lingkungan, hak asasi manusia, dan keberlanjutan.