Industri Asuransi Terancam? IFG Ungkap Solusi Jitu Jadi Penopang Stabilitas Ekonomi Nasional!

photo author
Dadan Hamdani, Purwakarta Online
- Rabu, 30 Juli 2025 | 19:53 WIB
IFG tegaskan pentingnya industri asuransi sebagai penopang stabilitas ekonomi RI di tengah tekanan global. (dok.IFG)
IFG tegaskan pentingnya industri asuransi sebagai penopang stabilitas ekonomi RI di tengah tekanan global. (dok.IFG)

PURWAKARTA ONLINE - Di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda, Indonesia Financial Group (IFG) menegaskan bahwa industri asuransi nasional memegang peranan penting sebagai penopang stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Sebagai Holding BUMN di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, IFG menyerukan kolaborasi kuat antara regulator, pelaku industri, dan publik untuk memperkuat ekosistem keuangan nasional.

Memasuki semester kedua tahun 2025, industri asuransi Indonesia menghadapi berbagai tekanan struktural, mulai dari ketidakpastian global, tingginya inflasi, hingga pelemahan daya beli masyarakat.

Tidak hanya itu, rasio klaim di sektor asuransi umum juga meningkat, menambah beban operasional perusahaan asuransi.

Baca Juga: PLN Kunjungi Petani Kopi Purwakarta, Tinjau Kebun dan Pengolahan Kopi untuk Program CSR 2026

“Asuransi punya peran strategis, tidak hanya melindungi sektor produktif, tetapi juga menjamin stabilitas sosial masyarakat,” tegas Denny S. Adji, Sekretaris Perusahaan IFG, dalam forum “IFG Media Brief: Insurance Industry Outlook – Challenges and Opportunities” yang digelar pada Rabu (30/7) di Graha CIMB Niaga, Jakarta.

Menurut Denny, industri ini perlu respons strategis dan adaptif melalui tiga langkah utama: reformasi kebijakan, digitalisasi layanan, dan sinergi antara regulator dan pelaku usaha.

Ia juga menyoroti pentingnya penataan ulang strategi bisnis yang berfokus pada tata kelola perusahaan, inovasi digital, dan integrasi sistem teknologi.

IFG juga mengungkapkan bahwa industri asuransi dan dana pensiun memiliki peran signifikan sebagai investor institusional di pasar keuangan dalam negeri.

Baca Juga: Dimulai dari Cipulus, PBNU Bangun Dapur MBG di 1.000 Titik Pesantren dan Sekolah NU Se-Indonesia

Data IFG menunjukkan bahwa sekitar 19% Surat Berharga Negara (SBN) dimiliki oleh pelaku industri ini.

“Sebanyak 63 persen dari total aset investasi industri asuransi dan dana pensiun dialokasikan ke obligasi. Sisanya tersebar ke instrumen lain seperti saham, deposito, dan reksa dana,” jelas Denny (@dennysadji).

Forum ini juga menghadirkan tiga peneliti dari IFG Progress, yakni Ibrahim Kholilul Rohman, Mohammad Alvin Prabowosunu, dan Rosi Melati, yang memaparkan data riset mengenai kondisi makroekonomi, tren industri asuransi jiwa dan umum, serta tantangan eksternal yang membayangi ke depan.

Dalam paparannya, Ibrahim menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak dari tingginya suku bunga acuan, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga komoditas yang memengaruhi likuiditas di pasar asuransi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dadan Hamdani

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X