Baca Juga: Dampak Globalisasi Pada Struktur Sosial Masyarakat
Teori Acemoglu–Robinson: Inklusif vs Ekstraktif
Ekonom Daron Acemoglu dan James Robinson menjelaskan, negara gagal menjadi maju bukan karena miskin sumber daya, melainkan karena memilih institusi ekstraktif.
- Institusi ekstraktif → hanya menguntungkan segelintir elite, mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan rakyat dan lingkungan.
- Institusi inklusif → melibatkan partisipasi masyarakat luas, mendorong inovasi, melindungi hak-hak warga, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya.
Negara dengan institusi ekstraktif cenderung merusak lingkungan demi keuntungan jangka pendek.
Sebaliknya, negara dengan institusi inklusif justru bisa membangun ekonomi hijau yang lebih tahan lama.
Baca Juga: Sumut Memanas! OKP Lintas Iman Bersatu Lawan Aksi Anarkis, TNI-Polri Diminta Lebih Persuasif
Ekonomi Restoratif: Jalan Keluar dari Krisis Lingkungan
Menurut Bima, Indonesia harus segera meninggalkan pola ekstraktif.
Ekonomi restoratif menjadi solusi, yakni model ekonomi yang mengutamakan keberlanjutan, konservasi, dan pelibatan masyarakat adat serta ilmuwan dalam pengelolaan sumber daya.
“Cukup sudah dengan ekstraktif. Kita punya pilihan yang lebih baik,” ujarnya. Kerusakan lingkungan akibat ekonomi ekstraktif adalah alarm keras bagi Indonesia.
Jika terus dibiarkan, hutan hilang, tanah rusak, air tercemar, dan masyarakat sakit. Pertumbuhan ekonomi pun jadi semu.
Saatnya beralih ke institusi inklusif dan ekonomi restoratif agar pembangunan tidak lagi merusak, tapi menyembuhkan bumi dan menyejahterakan rakyat.
Baca Juga: Jumlah Episode Rintik Terakhir di Viu: Ternyata Cuma Segini!
Ekonomi ekstraktif bikin hutan gundul, air tercemar, dan kesehatan terganggu. Indonesia harus beralih ke ekonomi restoratif demi masa depan berkelanjutan.***