Apa yang dialami Bernadya masuk dalam kategori Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), sebuah bentuk pelecehan yang sering terjadi melalui media digital.
KBGO mencakup serangan terhadap tubuh, seksualitas, identitas, dan gender seseorang melalui berbagai platform digital.
Baca Juga: Komentar Pelecehan Bernadya di X Picu Perdebatan Tentang Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)
Dalam kasus Bernadya, komentar negatif berulang ini mencerminkan pola perilaku meresahkan yang sayangnya masih dianggap wajar oleh sebagian netizen.
Yang membuat kasus ini semakin menyakitkan bagi Bernadya adalah bagaimana pelecehan tersebut tidak berhenti di satu platform saja.
Meski ia sudah mencoba mengontrol situasi dengan menghapus video, netizen masih menemukan cara untuk terus melecehkannya melalui platform lain.
Komentar negatif yang diunggah di X menunjukkan bahwa penyebaran ulang konten dapat menjadi alat bagi pelaku pelecehan untuk terus mengeksploitasi korban.
“Aku enggak bisa melarang orang berpikir apa tentang aku. Tapi, seharusnya kita semua bisa lebih berpikir dulu sebelum menulis komentar di media sosial,” ungkap Bernadya.
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran dan etika dalam berkomentar di media sosial.
Bernadya hanya ingin berbagi momen sederhana dengan penggemarnya, namun malah menjadi sasaran pelecehan yang tak sepatutnya terjadi.
Pelecehan berbasis gender di dunia maya tidak bisa dianggap sepele. Para pelaku sering bersembunyi di balik anonimitas dan merusak mental serta emosi korbannya.
Baca Juga: Ben: Purwakarta Butuh Pemimpin yang Memahami Hati dan Pikiran Petani
Bernadya, sebagai publik figur yang tengah naik daun, mungkin baru pertama kali mengalami hal ini, sehingga tak heran jika ia merasa cukup terkejut dan kecewa dengan reaksi berlebihan netizen.