Karakteristik Sistem Semi Intensif
Mayoritas peternakan domba masih berskala kecil dengan sistem pemeliharaan tradisional. Sistem semi intensif menggabungkan metode penggembalaan dan pengandangan, memungkinkan ternak merumput di siang hari dan kembali ke kandang di malam hari. Sistem ini terbukti meningkatkan kesehatan ternak serta produktivitasnya (Gonzaga et al., 2019). Implementasi metode ini banyak ditemukan di wilayah selatan Jawa Barat seperti Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang memiliki banyak lahan terbuka yang belum termanfaatkan secara optimal (Rusdiana et al., 2021).
Peran Sosiologi Pembangunan dalam Peternakan Berkelanjutan
Pengembangan peternakan domba semi intensif harus mempertimbangkan aspek sosial seperti peran kelembagaan lokal, partisipasi masyarakat, dan nilai-nilai budaya setempat. Kelembagaan seperti kelompok tani dan koperasi dapat berfungsi sebagai pusat penyebaran pengetahuan, koordinasi, dan akses terhadap sumber daya (Putra, 2017). Pendekatan sosiologi juga mendorong integrasi nilai-nilai sosial seperti gotong royong dalam sistem peternakan.
Selain itu, pelibatan perempuan dan pendekatan berbasis komunitas dalam pendidikan dan penyuluhan juga berperan dalam meningkatkan keberhasilan adopsi sistem ini (Sahusilawane, 2019; Munandar, 2022). Strategi sosiologi pembangunan berupaya memperkuat kapasitas lokal, mempercepat adopsi inovasi, serta memperluas akses pasar dan nilai tambah produk ternak (Sharma, 2019).
MANFAAT DAN TANTANGAN
Manfaat Utama:
Produktivitas meningkat dengan memanfaatkan lahan marginal sebagai sumber pakan alami, serta pengurangan stres ternak.
Sosial-ekonomi: Peningkatan pendapatan peternak kecil, penguatan jaringan sosial, dan kelembagaan komunitas.
Keberlanjutan lingkungan: Pemanfaatan kotoran sebagai pupuk organik membantu menjaga kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Tantangan yang Dihadapi:
Akses Teknologi: Peternak skala kecil masih terbatas dalam mengakses teknologi reproduksi, pakan, dan layanan kesehatan ternak.
Kelembagaan: Minimnya pengembangan koperasi atau kelompok tani di beberapa daerah menghambat adopsi sistem ini.
Harga Pasar: Ketidakstabilan harga jual ternak dan pakan dapat merugikan peternak kecil (Sonnino, 2014).
KESIMPULAN