PURWAKARRTA ONLINE - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah kembali ke tanah air pada Rabu malam (3/9) usai menghadiri peringatan 80 Tahun Kemenangan Perlawanan Rakyat Tiongkok dan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan strategis, Prabowo tidak hanya memperkuat hubungan diplomatik, tetapi juga membawa komitmen penting untuk memperkuat ekonomi nasional.
“Hubungan kedua negara kini berada pada periode terbaik dalam sejarah,” tegas Prabowo, menggarisbawahi niat pemerintah untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis.
Baca Juga: Rintik Terakhir Episode 5: Dendam Anwar, Tragedi Rahayu, dan Pertarungan Hati
Dukungan Tiongkok untuk Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Presiden Xi Jinping secara terbuka menyampaikan dukungan penuh terhadap pemerintahan Presiden Prabowo, khususnya dalam memulihkan stabilitas nasional dan mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang.
“China mendukung kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, mendukung pemulihan ketertiban dan stabilitas Indonesia secepatnya, serta mendukung pembangunan dan penguatan Indonesia,” kata Xi.
Dukungan ini diyakini menjadi sentimen positif bagi investor internasional, sekaligus memberikan ruang manuver yang lebih luas bagi Indonesia untuk mengundang masuk investasi berkualitas ke berbagai sektor unggulan.
Baca Juga: Abang Ijo Dorong Hilirisasi Pertanian Terpadu demi Ketahanan Pangan Purwakarta yang Berkelanjutan
Ekonomi Strategis dan Nilai Tambah Nasional
Dalam dialog bilateral tersebut, kedua pemimpin sepakat bahwa kerja sama ekonomi harus naik ke level baru.
Tidak lagi sekadar perdagangan, namun juga mencakup transfer teknologi, investasi sektor strategis, dan penguatan rantai pasok nasional.
Beberapa sektor utama yang menjadi fokus kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok ke depan antara lain:
- Mineral dan hilirisasi industri logam tanah jarang (rare earth)
- Ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI)
- Pertanian modern dan teknologi pangan
- Perikanan, khususnya budidaya berbasis ekspor
- Pembangunan infrastruktur dan konektivitas ekonomi antarwilayah
Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk mendorong industrialisasi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, sehingga menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah dalam negeri.