Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tantangan usaha petani kopi di masa pandemi covid-19

petani kopi,kopi petani,kondisi petani kopi,petani kopi,petani kopi dan tengkulak,petani kopi Indonesia,petani kopi purwakarta
Iyan, Petani Kopi Purwakarta

Purwakarta Online - Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, berharap supaya para petani kopi di daerah Kecamatan Kiarapedes serta sekitarnya sanggup tingkatkan produksi kopinya.

"Kami hendak memberikan perhatian supaya para petani kopi bisa tingkatkan produksinya," kata Sekretaris Wilayah( Sekda) setempat Iyus Permana, di Purwakarta, Rabu.

Iyus mengatakan, kini di daerah Purwakarta masih banyak lahan yang dapat dibudidayakan tumbuhan kopi, supaya hasilnya dapat lebih masif untuk dipasarkan.

Perihal lain yang rencananya hendak dicoba Pemkab Purwakarta yakni menggelar pelatihan pengolahan kopi pascapanen.

Tidak hanya itu, kata Iyus, pemkab pula hendak menolong memfasilitasi dan membina para petani kopi supaya ke depannya kopi yang dihasilkan dapat diolah menjadi produk unggulan.

Dia mengatakan, kopi yang ditanam di dataran besar Kecamatan Kiarapedes serta Wanayasa mempunyai karakteristik khas tertentu.

Iyus meyakini jika kopi Purwakarta tidak kalah bersaing dengan kopi nusantara yang lain yang telah terkenal.

Catatan Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, perkebunan kopi di wilayah itu tersebar di 4 kecamatan, ialah di Kecamatan Wanayasa, Bojong, Darangdan, serta Kiarapedes. Para petani kopi itu menanam tipe robusta.

Terdapat sekitar 387 hektar perkebunan kopi yang tersebar di 4 kecamatan itu dengan kemampuan prosuksi mencapai lebih dari 500 ton per tahun.

Petani Kopi Bandung terjerat tengkulak

Dikutip dari Pak Tani Digital( 8/ 7/ 2021) Kehidupan petani kopi tidak senikmat rasa minumannya. Para petani tidak mempunyai posisi tawar dalam memastikan harga jual kopi, yang membuat kehidupan mereka menyakitkan walaupun bisnis minuman pahit tersebut terus menggeliat di penjuru dunia.

Ini disebabkan para petani masih terjerat oleh para tengkulak, petani membayar para kuli angkut yang membawa kopi dalam bentuk ceri dari perkebunan di kawasan pegunungan sampai ke pinggir jalur yang bisa diakses kendaraan.

Para tengkulak menemui petani di pinggir jalan, transaksi biasa dicoba di pinggir jalur. Jalur serta sistem perdagangan yang adil ialah kunci untuk kesejahteraan petani.

Ratusan para petani kopi di desa Loa, kecamatan Paseh, Bandung, Jawa Barat tercatat selaku kalangan miskin yang mengandalkan subsidi pangan dari pemerintah.

Mereka secara teratur menerima dorongan beras rakyat miskin( raskin) yang saat ini berganti nama jadi BPNT.

Desa Loa ialah salah satu wilayah penghasil kopi arabika tipe premium Java Preanger dengan jumlah produksi 1000 ton per tahun. Melaratnya para petani kopi sebab transaksi tidak adil yang diterapkan tengkulak.

Harga jual buah kopi hasil panen bercorak merah yang diucap cherry (ceri) dihargai Rp 8 ribu per kg. Pemasukan tersebut juga masih dipotong bayaran angkut Rp 2 ribu per kilogram.

Para petani kopi ini telah berupaya membagikan harga yang lebih baik kepada para penjual yang lain. Tetapi, para penjual tersebut saling bekerja sama membentuk harga yang merugikan petani.

Tidak banyak yang bisa dicoba petani kopi untuk memperoleh uang hasil panen kopi dengan cepat. Sementara itu bila petani sanggup melakukan peyortiran serta pengolahan harga kopi agar lebih bertambah.

Sistem Perdagangan yang Adil Buat Kopi Petani

Koperasi bisa jadi alternatif buat tingkatkan pemasukan. Dengan bergabung bersama koperasi, para petani hendak memperoleh banyak pengetahuan baru mencerna kopi, memperoleh pinjaman dan menjual dengan harga lebih baik.

Tidak hanya koperasi, tawaran buat tingkatkan harga jual dengan menggunakan platform e- commerce, salah satunya KopiTani.

CEO KopiTani Arif mengatakan ilham menggagas platform yang mempertemukan petani langsung dengan para pembelinya dia bisa sehabis dari tempatnya bekerja dulu ialah di industri eksportir kopi.

Seperti itu data menimpa petani kopi yang terjerat oleh para tengkulak. Mudah- mudahan datanya berguna yaa sobat!

Riset Yayasan Inisiatif Dagang Hijau serta Enveritas mengatakan, 90% hasil kopi petani di Indonesia dibeli oleh para pengumpul. Tercatat, dikala ini terdapat lebih dari

4. 000 pengumpul yang dinilai berfungsi berarti menunjang rantai pasok kopi berkepanjangan lantaran sanggup membawakan produk petani ke pasar.

Jumlah petani kopi yang tersebar di segala Indonesia diperkirakan menggapai angka 1, 34 juta orang. Petani kecil ini menciptakan 99% penciptaan komoditas kopi.

Tren pertumbuhan penciptaan kopi dekat 5, 7% per tahun, yang mana terjalin kenaikan penciptaan di Sumatera paling utama buat tipe kopi robusta. Sebaliknya di wilayah lain, penciptaan cenderung normal ataupun menyusut.

Riset yang dicoba di 4 negeri penghasil kopi ialah Indonesia, Vietnam, Uganda, serta Kolombia dari 2018 sampai 2020 ini juga memotret kemiripan kedudukan para pengumpul.

Spesial di Indonesia, riset ini menguak terdapatnya 3 tipe pengumpul, ialah di tingkatan desa, tingkatan kabupaten/ kota, serta agen.

Ketiganya membagikan layanan yang seragam kepada petani, antara lain berbentuk pemberian pinjaman, penyediaan pupuk serta benih bermutu, dan melaksanakan pelatihan.

Pimpinan Pengurus Yayasan YIDH, Fitrian Ardiansyah berkata, riset ini menampilkan kemampuan nyata yang dapat digunakan buat revisi tata kelola rantai pasok kopi Indonesia.

"Kami berharap seluruh pemangku kepentingan bisa memandang kedudukan strategis dari pelakon aktif perkopian di lapangan, tercantum kelompok pengumpul, buat menjamin keberlanjutan rantai pasok serta menguntungkan seluruh pihak,” kata dilansir dari penjelasan formal, Kamis( 13/4).

Kopi ialah salah satu komoditas Tanah Air yang sangat menjanjikan baik di pasar dalam negeri ataupun internasional. Sebanyak 99% penciptaan kopi Indonesia oleh kelompok petani kecil menciptakan panen kopi tipe robusta serta arabika.

Tetapi produktivitas komoditas kopi Indonesia masih di dasar Vietnam. Baik pengumopul ataupun petani kopi dikala ini mengalami tantangan berbentuk turunnya harga komoditas kopi akibat pandemi global.

Walhasil, akses produk kopi ke sebagian pasar juga tergaggu sebab pembatasan transportasi serta turut berefek pada menyusutnya ekspor ke luar negara.

Ada pula penyusutan harga kopi arabika Indonesia dikala ini pula diakibatkan banyaknya pembatalan pesanan.

Ini tidak lain sebab banyak kedai kopi yang tutup ataupun jam operasionalnya dibatasi sepanjang pembatasan sosial berskala besar( PSBB) berlaku.

Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia( SCOPI) Paramita Mentari Kesuma berkata, di Indonesia, pengumpul tidak cuma ikut serta dalam jual- beli kopi dengan petani, namun pula menunjang akses agri-input, akses finansial serta sebagainya.

Bila terjalin kerja sama efisien serta adaptif antara pengumpul, petani kopi serta aktor lain dalam rantai pasok kopi di tengah pandemi dikala ini, diharapkan stabilitas pasar kopi Indonesia dapat terpelihara.

"Dan mendesak ekosistem bisnis kopi yang berkepanjangan,” katanya.

Sedangkan itu, Pemimpin Operasional Enveritas Daerah Asia Senthil Nathan berkata, para pengumpul turut membangun kesejahteraan petani sebab ikatan yang silih memerlukan satu sama lain.

Buat membetulkan penjualan kopi wajib ra dicoba reformasi bisnis. Sebagian yang wajib diganti ialah menghasilkan akses pasar yang lebih modern memakai teknologi, membagikan akses terhadap pinjaman, melaksanakan pelatihan bisnis serta menghasilkan sistem transportasi yang lebih efisien.

"Menunjukkan tingkatan mutu kopi petani serta memperluas tipe layanan para pengumpul di luar selaku pembeli,” ucapnya.

Kelesuan usaha kopi akibat Covid-19

Ada pula pandemi corona yang menyerang di nyaris segala negeri berakibat pada penyusutan harga kopi dunia. Tercatat semenjak Juni sampai dikala ini harga biji kopi di cuma dipatok sebesar US$ 2, 2 per kg( Kilogram) ataupun setara Rp 32. 000.

Direktur Jenderal Negosiasi Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo berkata, semenjak tahun 2010 harga kopi terus menyusut dari yang tadinya menggapai US$ 4, 68 per kilogram ataupun setara Rp 68.000.

Tidak lama sehabis terdapat pandemi, harga kopi juga anjlok sampai di dasar US$ 2, 5 per ataupun dekat Rp 36.000 per kilogram.

" Harga kopi terus menyusut sampai saat ini," kata Iman dalam dialog daring di Jakarta, Rabu( 5/ 8). 

Perihal itu baginya diakibatkan terganggunya rantai pasok serta permintaan kopi akibat kebijakan karantina daerah (lockdown) yang diterapkan bermacam negara. (*)

Sumber:

  • https://megapolitan.antaranews.com/berita/75139/petani-kopi-purwakarta-diharap-tingkatkan-produksi-kopi
  • https://paktanidigital.com/artikel/kehidupan-petani-kopi-yang-masih-terjerat-para-tengkulak/#.YOvt5egzaUk
  • https://katadata.co.id/ekarina/berita/5f359fac2a751/studi-90-kopi-petani-rakyat-dibeli-pengumpul-dan-dijual-ke-pasar

Search keywords: petani kopi,kopi petani,kondisi petani kopi,petani kopi,petani kopi dan tengkulak,petani kopi Indonesia,petani kopi purwakarta

Posting Komentar untuk "Tantangan usaha petani kopi di masa pandemi covid-19"