Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisa bisnis sepakbola Indonesia, sumber penghasilan hingga fenomena artis beli klub

Bisnis Sepakbola

Purwakarta Online - Dunia sepakbola Indonesia memasuki era baru, dimana sentuhan bisnis lebih kentara dibanding dasawarsa sebelumnya.

Perlu kita intip bagaimana bisnis olahraga ini, bagaimana potensinya. Dari mana datangnya omzet?

Apalagi artis-artis yang sukses secara finansial kini mulai melirik bisnis sepakbola ini. Mereka berbondong-bondong membeli klub sepakbola.

Fenomena artis sukses beli klub sepakbola

Fenomena artis membeli klub sepak bola khususnya Liga 2 Indonesia menjadi ramai diperbincangkan publik. Raffi Ahmad, Gading Marten, Atta Halilintar, dan terakhir Baim Wong.

Oh tunggu, satu lagi, putra bungsu Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) Kaesang Pangarep juga membeli klub sepakbola yang akan bermain di kasta kedua Liga Indonesia.

Diketahui, Raffi Ahmad bersama pengusaha Rudy Salim mengambil alih Cilegon FC dan mengubah namanya menjadi RANS Cilegon FC.

Kemudian, Gading Marten baru sah mengakuisisi Persikota Tangerang. Selain itu, Atta Halilintar belum lama ini memperkenalkan klub baru yaitu AHHA PS Pati FC.

Melihat fenomena tersebut, Pengamat Sepak Bola Mohamad Kusnaeni menyebut bahwa bisnis di sepak bola cukup menarik. Tetapi, selama ini mengelola klub Liga 2 memang kurang menguntungkan.

Namun, dengan adanya selebriti yang saat ini membeli klub Liga 2 dinilai akan lebih baik dalam pengelolaannya karena kemampuannya sudah teruji dalam menghasilkan uang dan mereka selama ini memakai konsep bisnis yang berbeda dengan para pengelola klub Liga 2.

"Buat saya, ini menarik. Saya penasaran ingin melihat bagaimana mereka menggunakan konsep dan pendekatan bisnis yang berbeda dalam mengelola klub profesional. Siapa tahu kita bisa belajar banyak hal baru dari Raffi cs," ujar Bung Kus, sapaan akrab Kusnaeni kepada MNC Portal Indonesia, Senin (7/6/2021).

Bung Kus menambahkan, jika dalam situasi normal, prospek industri sepak bola nasional sebetulnya cukup menjanjikan, terutama di kota-kota besar dengan basis penggemar cukup besar, seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya.

"Tapi, untuk saat ini, sebetulnya situasinya cukup berat karena pandemi Covid-19. Banyak klub mengalami tekanan yang cukup berat secara finansial," kata dia.

Dengan banyaknya pesohor yang tertarik masuk ke industri sepak bola nasional menunjukkan bahwa dengan segala permasalahannya, daya tarik sepak bola di Tanah Air masih sangat besar.

Menurutnya, hadirnya para pesohor cukup positif bagi sepak bola nasional.

"Selain meningkatkan kepercayaan publik, juga membantu menggairahkan kembali industrinya yang agak tertekan selama masa pandemi ini. Pihak pengelola TV jadi makin tertarik menyiarkan, produsen dan pengiklan juga jadi lebih bersemangat kembali memberi dukungan," ucapnya.

Selain itu, Bung Kus sering meminta agar PSSI dan operator lebih serius untuk memperhatikan Liga 2, jangan hanya fokus membesarkan Liga 1. Menurutnya, tantangan saat ini berada di PSSI dan operator.

"Mereka harus bisa memfasilitasi dengan kompetisi yang menarik, profesional, sportif, dan akuntabel. Kalau itu gagal diwujudkan, para pesohor itu akan kecewa sehingga investasi mereka mungkin hanya seumur jagung. Dan itu bisa membawa citra buruk bagi sepak bola nasional," tuturnya.

"Jadi, kepada PSSI dan operator, saya minta kepercayaan ini dijaga betul. Tidak cukup hanya mampu menggelar kompetisi, tapi juga perlu dijaga betul kualitas, daya tarik, dan sportivitasnya," sambungnya.


Optimisme baru dan analisa gila bisnis sepakbola

Setiap tahun, setiap musim, bahkan sebelum pandemi Covid-19 datang, sepakbola Indonesia berada pada tahap menunda putus asa.

Tampak gemerlap di permukaan, tetapi sulit menghilangkan aura pesimistis lantaran begitu banyak sebab.

Lalu, belakangan ini muncul fenomena pebisnis dan selebriti yang menerabas masuk ke hutan belantara pengelolaan klub sepakbola Indonesia.

Apakah hal itu cukup menghadirkan optimisme? Bisa jadi. Setidaknya lebih baik ketimbang dicengkeram politisi.

Semoga saja ini bukan tren ala ikan louhan, batu akik, dan gelombang cinta. Atau tren tanaman hias berharga ratusan juta yang begitu cepat melejit dan tiba-tiba hilang begitu saja.

Apakah ini pembuka tulisan yang pesimistis? Tidak juga. Anggap saja skeptis.

Pengelolaan klub sepakbola di Indonesia memang terus berkembang sejak tidak lagi menyusu kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Bahkan, beberapa tahun belakangan, meski masih pseudo-profesional, terjadi perkembangan yang positif dengan masuknya para pebisnis ke industri sepakbola.

Klub mantan perserikatan seperti Persebaya, Persib, dan Persija dikelola oleh sosok-sosok profesional. Pengelolaannya pun semakin kekinian. Bali United dan Borneo FC juga menjadi pionir dari klub generasi baru.

Kemudian, ada Bhayangkara FC yang sekarang berbasis di Solo. Klub ini unik.

Penonton sedikit, saya pun ragu penjualan merchandise mereka laku keras, dan pendapatan dari hak siar, ya, sama saja.

Akan tetapi, mereka punya kekuatan dana untuk mengumpulkan para pemain berlabel bintang dengan harga mahal. Mungkin, masih mungkin, nih, pendapatan dari sponsornya memang luar biasa.

Nah, tren di Liga 1 itu kini mengucur ke bawah, tepatnya menuju Liga 2. Bahkan, bisa dibilang paling heboh pada musim ini.

Memang masih ada, sih, klub semodel Kalteng Putra yang bikin publik pesimistis. Namun ada angin segar baru dari beberapa klub.

Kalau musim sebelumnya ada Sulut United, kini ada beberapa klub ”baru” yang siap mengguncang kemapanan nama lawas seperti PSIM, PSMS, dan Sriwijaya FC. Alhasil, Liga 2 menjadi lebih menarik dinantikan persaingannya.

Putra Sinar Giri yang sebelumnya berkandang di Gresik hijrah ke Pati dan menggunakan nama Putra Safin Group (PSG). Mereka dibekingi oleh Wakil Bupati Pati.

Lalu ada Dewa United yang bermarkas di Tangerang dan sebelumnya berwujud Martapura FC.

Tak ketinggalan, dua klub yang akhir-akhir ini konsisten mendatangkan kehebohan yakni Persis dan Cilegon United.

Nadi Persis kembali berdenyut kencang usai trio Kaesang Pangarep, Kevin Nugroho, dan Erick Thohir masuk sebagai pemilik baru.

Bagi saya, perekrutan ini lebih mentereng dibanding Persib yang menggamit Carlton Cole atau gosip Kalteng Putra mau membajak Diego Forlan.

Tanpa tedeng aling-aling, Kaesang pun membidik kesempatan promosi ke Liga 1 di tahun pertamanya mengomandoi tim.

Sementara Cilegon United kini sudah dimiliki aktor kenamaan Indonesia, Raffi Ahmad, yang mengakuisisi klub tersebut bersama rekannya, Rudy Salim.

Dalam rilis resminya beberapa waktu lalu, nama klub berubah menjadi RANS Cilegon FC. Pun dengan logonya.

Konon, kesebelasan yang satu ini digelontor dana 300 miliar Rupiah hanya untuk membangun akademi sepakbolanya.

Entah berapa banyak dana yang akan dikeluarkan buat mengarungi kompetisi Liga 2 (andai digelar di tahun 2021).

Entah siapa yang membisiki Kaesang dan Kevin atau Raffi dan Rudy soal prospek bisnis sepakbola tanah air.

Harapan saya, mereka kuat serta tidak mudah patah hati dengan iklim negatif yang masih tersisa dari para ”cukong” lawas. Apalagi mereka masuk di kala pandemi Covid-19 belum reda.

Saya antusias dengan hadirnya muka-muka baru di sepakbola tanah air. Mereka menyuntikkan harapan bahwa bisnis sepakbola yang belum meyakinkan untuk beroleh keuntungan besar atau setidaknya masih bakar duit tetaplah berpotensi.

Kehadiran mereka memperbanyak orang-orang profesional yang menantang kemapanan.

Memang, masih banyak keraguan akan bisnis sepakbola. Jangankan di negeri +62, di level dunia pun bukan sesuatu yang bisa langsung menghadirkan keuntungan finansial besar.

Itulah mengapa sebuah firma manajemen keuangan, Deloitte, membuat daftar peringkat klub terkaya di dunia dengan nama Football Money League berbasis pendapatan kotor.

Kok, bukan berdasarkan keuntungan klub? Alangkah lebih adil apabila dihitung pendapatan dan pengeluaran dari sebuah klub sehingga ujungnya bisa ketahuan mereka meraih untung atau justru merugi.

Masalahnya adalah klub yang untung itu sedikit. Sudah begitu sedikit untungnya. Ini bukan kegusaran baru.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski sudah membeberkannya dalam buku mereka yang berjudul Soccernomics.

Penghasilan klub elite memang fantastis, tetapi labanya tak segemerlap itu.

Berdasarkan Football Money League untuk musim 2019/2020, Barcelona ada di posisi teratas dengan pendapatan terbesar.

Mereka meraup 741,1 juta Euro atau kurang lebih setara Rp 12,5 triliun.

Dari pendapatan sebesar itu berapa keuntungan Barcelona? Tidak ada.

Bahkan, berdasarkan publikasi resmi klub, mereka merugi 97 juta Euro (Rp 1,6 triliun). Pandemi Covid-19 bikin mereka dalam kesulitan.

Dalam rilisnya, raksasa Catalan itu menjelaskan bahwa pendapatan mereka sebesar 855 juta Euro (lebih tinggi ketimbang hitungan Deloitte).

Namun itu tetap di bawah proyeksi awal musim sebesar 1,047 miliar Euro.

Benar, pandemi Covid-19 memang mengacaukan semua proyeksi dan skenario. Bisnis sepakbola menjadi kocar-kacir.

Namun jauh sebelum itu, Deloitte selalu menghitung menggunakan pendapatan. Bukan laba atau rugi.

Mari kita abaikan soal keuntungan finansial besar itu dan kembali mengamati skena pengelolaan sepakbola nasional.

Sebab ada tantangan yang bahkan lebih besar ketimbang pandemi Covid-19 di Indonesia.

Konyolnya, tantangan besar itu justru datang dari federasi sepakbola Indonesia (PSSI) dan PT. Liga Indonesia Baru sebagai operator kompetisi.

Sejak lama, Azrul Ananda yang merupakan presiden Persebaya bicara soal syarat agar kita punya liga yang kuat dan berkelanjutan.

Liganya harus sehat, kemudian klub kontestan juga sehat, dan ujungnya para pemain akan sejahtera. Dia sudah mempraktekkan itu.

Ya, ketika menjadi pengelola liga basket profesional National Basketball League (NBL), Azrul menata operator kompetisinya terlebih dulu.

Kemudian secara perlahan pembenahan terjadi di level klub. Dan ujungnya para pemain bisa nyaman walau gajinya tak sebesar pemain sepakbola.

Dengan semakin banyaknya sosok-sosok profesional yang berkecimpung dalam bisnis sepakbola, potensi untuk menghadirkan kesebelasan yang sehat akan semakin besar.

Namun apakah itu dibarengi dengan liga yang sudah sehat? Ehem, tunggu dulu.

Entah menurut pembaca, tetapi bagi saya, federasi dan operator belum menjadi bagian dari solusi.

Ironisnya mereka justru menjadi salah satu akar masalahnya.

Hal ini tampak jelas dengan berbagai keputusan mereka musim lalu ketika pandemi dimulai.

PSSI dan PT. LIB sangat plin-plan dalam mengambil keputusan apakah melanjutkan kompetisi atau menghentikannya.

Pada akhirnya, mereka berkeputusan untuk menghentikan kompetisi. Namun butuh waktu nyaris satu tahun untuk menentukan hal tersebut sehingga membuat seluruh kesebelasan di tanah air hidup dalam ketidakpastian.

Digelarnya Piala Menpora 2021 sebagai turnamen pra-musim usai mendapat izin pihak Kepolisian dalam menggelar hajatan sepakbola sekaligus menggunakan ajang tersebut sebagai sebelum melangsungkan kompetisi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3, apakah kepastian dari berlangsungnya liga sudah bisa dijamin?

Nahasnya, baik PSSI dan PT. LIB sendiri belum tahu pasti. Lebih-lebih para klub atau suporter seperti saya. Satu-satunya hal yang kita miliki saat ini hanyalah asa.

Kabarnya, jadwal Liga 1 sudah disiapkan. Rancangannya pun konon sudah tersosialisasikan.

Lantas, apakah izin dari Kepolisian akan turun dengan mudahnya? Status Ketua Umum PSSI saat ini yang merupakan mantan Polisi juga tidak bisa dijadikan garansi.

Padahal, bisnis sulit berjalan dengan baik tanpa kepastian. Bukan hanya kepastian jadwal, melainkan juga regulasi serta bagi hasilnya.

Karena itu, saya masih kesulitan untuk optimistis, tetapi juga menolak pesimistis.

Wajar bila saya juga bertahan pada skeptisisme dan menunggu terbukanya segala fakta yang ada dalam tata kelola sepakbola Indonesia.

Video cara Pangeran Arab bangun dinasti sepakbola dunia


Sumber penghasilan klub sepakbola

Kompetisi sepak bola di hampir seluruh dunia sedang ditangguhkan akibat pandemi virus corona. Penangguhan ini bisa memicu kerugian finansial.

Kerugian harus ditanggung klub dan juga pengelola kompetisi. Eropa, yang unggul dalam bisnis sepak bola, mengalami kerugian paling hebat.

Maklum dalam situasi normal dan ada pertandingan, klub sudah pasti mengantongi penghasilan dari dua pos; tiket masuk stadion dan hak siar televisi.

Jadi, ketika kompetisi ditangguhkan dan pertandingan ditiadakan --bahkan termasuk tanpa penonton sekalipun, klub akan merugi.

Video cara klub sepakbola hasilkan uang


Secara umum, klub sepak bola punya enam pos penghasilan. Masing-masing adalah hak siar televisi, penjualan tiket stadion, hadiah uang (prize money),merchandise, transfer pemain, dan sponsor.

1. Hak Siar

Ini adalah pemasukan paling besar yang diterima klub sepak bola di Eropa, nominal terbesar diterima klub-klub Liga Inggris.

Porsi pemasukan dari hak siar, menurut Deloitte Football Money League, bisa mencapai 50 persen dari total penghasilan klub di Eropa dalam semusim.

Jumlah uang dari pos ini akan bergantung pada jumlah pertandingan setiap klub yang disiarkan langsung oleh televisi.

Sebagai contoh Liverpool, yang pada musim 2018-2019 adalah klub Inggris dengan pemasukan hak siar terbanyak.

Meski cuma menjadi runners-up, Si Merah 29 kali disiarkan langsung dan mengantongi pemasukan hingga 33,5 juta pounds atau Rp594 miliar.

Jika tak ada pertandingan, berarti tak akan ada siaran langsung. Alhasil pos pemasukan hak siar bakal menurun drastis.

Di Inggris, Premier League menjual hak siar per tiga tahun. Jadi sejak 2016, penjualan hak siar terbesar Liga Inggris adalah ke Cina dengan nilai untuk tiga tahun sekitar Rp10,1 triliun atau 560 juta pounds.

Uang itu kemudian dibagi merata ke 20 klub Liga Inggris. Per musim, 95 persen uang dari televisi mengalir ke klub. Hanya lima persen diambil Premier League.

2. Tiket Stadion

Hari pertandingan adalah masa yang dinanti oleh klub dan penggemar. Bagi klub, ini adalah uang nyata di depan mata.

Apalagi jika lawan yang dihadapi adalah tim besar atau rival berat sesama pesaing di jalur juara. Tiket bakal terjual habis untuk kapasitas yang disediakan.

Bisa juga klub meraih pemasukan lumayan jika menjual harga tiket relatif mahal.

Manchester United adalah klub dengan kapasitas stadion terbesar di Liga Inggris, 74.994 kursi.

Pada musim 2018-2019, Man United mengantongi total pemasukan dari tiket penonton hingga 110,8 juta atau sekitar Rp2 triliun.

Sementara Arsenal adalah klub dengan harga tiket masuk pertandingan termahal di Inggris, rerata sekitar 95,5 pounds per orang.

Tiket stadion juga bisa diterima di depan, yakni menjual tiket musiman atau terusan. Penjualan tiket musiman akan semakin baik ketika sebuah tim mampu merekrut pemain yang menjanjikan sebelum kompetisi dimulai.

3. Hadiah uang

Kompetisi secara umum menyediakan hadiah uang atau prize money bagi tim yang menang atau imbang.

Ada pula yang menyediakan uang tampil, di luar kemenangan atau hasil imbang, UEFA memberlakukannya di Liga Champions dan Liga Europa.

jadi ketika tampil di dua ajang itu, setiap klub minimal menerima uang tampil per pertandingan. Jika menang atau imbang, klub akan mendapat tambahan hadiah uang.

Tidak heran, klub di Eropa berlomba-lomba masuk ke Liga Champions atau Liga Europa. Bagi tim elite, targetnya menjadi juara atau sebisa mungkin lolos hingga fase minimal perempat final.

Penyebabnya itu tadi, hadiah uang yang relatif besar --terutama Liga Champions.

Liga Champions memberi hadiah uang 15 juta euro atau Rp261 miliar, sedangkan runners-up menerima 10,5 juta euro atau Rp182 miliar.

Sementara hadiah uang untuk fase grup Liga Champions adalah 12 juta euro atau Rp209 miliar.

Adapun liga-liga domestik juga menyediakan hadiah uang. Secara umum, nilai uang berdasarkan posisi klub di klasemen akhir. Jadi makin tinggi posisi sebuah klub, makin besar hadiah uangnya.

4. Merchandise

Pemasukan dari pos ini sebenarnya tidaklah besar, minimal tidak semua klub bisa mendapatkan angka yang besar.

Barcelona adalah klub dengan pemasukan terbesar dari pos ini. Klub Catalunya ini meraup pendapatan signifikan dari merchandise dan aktivitas lisensi kreatif.

"Barcelona adalah contoh bagaimana sebuah klub beradaptasi dengan perubahan pasar. Mereka mengurangi ketergantungan pada hak siar dan fokus menumbuhkan penghasilan komersialnya," ujar Dan Jones dari Sports Business Group Deloitte.

Barcelona mengantongi pemasukan 385 juta euro atau Rp6,6 triliun dari aktivitas komersialnya pada semusim lalu.

5. Transfer Pemain

Secara umum, pemasukan dari pos ini tidak selalu bisa diandalkan. Sebuah klub bisa saja membeli pemain dengan harga tertentu, tapi menjualnya di bawah harga pembelian alias rugi.

Namun, jika ada keuntungan yang cukup signifikan, klub bisa menggunakan uangnya untuk membeli pemain lain.

Misalnya ketika Tottenham Hotspur menjual Gareth Bale ke Real Madrid pada 2013 dengan nilai termahal ketika itu, 85,1 juta pounds. Padahal Bale direkrut Tottenham secara gratis.

Tottenham kemudian menggunakan kentungan itu untuk memboyong Roberto Soldado 26 juta poiunds, Paulinho 17 juta pounds, Nacer Chadli 7 juta pounds, Christian Eriksen 11,5 juta pounds, Etienne Capoue 9 juta pounds, Erik Lamela 26 juta pounds, dan Vlad Chiriches for 8,5 juta pounds.

Transfer pemain lebih sering diandalkan klub-klub kecil untuk mengumpulkan receh. Ini dilakukan oleh klub seperti Udinese yang memiliki sister clubs Watford dan Granada atau Leicester City.

Sementara klub besar, menurut Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam buku Soccernomics (2009), lebih sering membuat kesalahan transfer. Seorang pemain dibeli dengan mahal tapi performanya jauh dari harapan.

6. Sponsor

Ini adalah pos yang cukup menggiurkan. Makin besar nama klub dan kian sering juara, makin banyak sponsor yang ingin masuk dengan iming-iming uang yang signifikan.

Lihat Man United yang mengikat Chevrolet dengan angka sekitar 50 juta poundsterling atau Rp897 miliar per tahun.

Kemampuan Man United menggaet Chevrolet dengan angka kontrak yang cukup mahal itu disebabkan oleh brand klub yang sudah kuat. Padahal Man United sedang kering gelar juara.

Klub sepakbola Indonesia masuk Bursa Saham, pelopor di Asia Tenggara

Sepak terjang duet kakak beradik Pieter Tanuri dan Yabes Tanuri dalam dunia bisnis meluas hingga ke rumput hijau.

Keduanya sepakat mengambil alih kepemilikan klub sepak bola Persisam Putra Samarinda pada 2015, kemudian menyulapnya menjadi Bali United.

Termasuk memindahkan 'kandang' sesuai nama klub, dari Pulau Kalimantan ke Pulau Dewata.

Pieter Tanuri semula dikenal khalayak sebagai pengusaha ulung pemilik perusahaan ban PT Multistrada Arah Sarana Tbk. meski kini dia telah melego sahamnya kepada perusahaan ban asal Perancis, Michellin.

Sementara itu, sang adik Yabes Tanuri memiliki tiga lisensi profesi dalam dunia jasa keuangan, atau sebut saja pialang saham.

Dalam 'usaha' klub sepak bola Bali United itu, Pieter diketahui menjabat komisaris utama, sementara Yabes sebagai Direktur Utama perusahaan.

Tak berhenti sampai membeli dan menyulap klub sepak bola, Tanuri bersaudara kemudian memutuskan untuk membawa perusahaan yang bernama resmi PT Bali Bintang Sejahtera Tbk itu ke lantai bursa saham pertengahan Juni 2019 lalu.

Dengan penjualan saham ke publik (go public) itu, Bali United mencetak sejarah sebagai klub sepak bola pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang bertengger di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

CEO Bali United Yabes Tanuri menyampaikan, dari sisi korporat, dia mengakui perusahaan membutuhkan modal untuk pengembangan usaha yang lebih besar dan lebih cepat.

Selain bisnis klub sepak bola, perusahaan memiliki empat lini bisnis lain, sebut saja event organizer, restoran, merchandise, dan e-sport.

"Kalau dari sisi klub, dengan menjadi perusahaan terbuka, maka akan lebih dipercayai oleh perusahaan nasional maupun multinasional. Sponsor juga akan lebih percaya," ujarnya saat ditemui tim CNNIndonesia.com di kantornya, beberapa waktu lalu.

Melalui penjualan saham ke publik, perusahaan memperoleh dana tanpa beban bunga layaknya kredit ke bank.

Pada akhirnya, lanjut Yabes, dana yang mencukupi dapat menjaga stabilitas prestasi klub.

Kendati demikian, bukan berarti perusahaan tak menelan risiko dari aksi go public tersebut.

Tak dipungkiri, harga saham perusahaan akan dipengaruhi oleh sentimen hasil pertandingan setiap kali Bali United bermain.

Dia mengakui, prestasi klub di masa mendatang akan turut mempengaruhi kinerja bisnis perusahaan.

Tantangan lain, Yabes juga mengaku mesti menyiapkan tim akuntan finansial tambahan yang mumpuni untuk mengurusi seluruh kewajiban sebagai perusahaan terbuka.

"Kalau sudah IPO, tiga bulan sekali harus laporan ke OJK, laporan keuangan diaudit, publikasi di media. Hal-hal legal harus tepat waktu dan tak boleh keteteran," sebut Yabes.

Tak hanya itu, transparansi kinerja klub juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

Namun, Bali United 'nekat' ingin memperlihatkan transparansi klub kepada para suporter, hal yang selama ini enggan dilakukan klub sepak bola nasional lain.

Beruntung, menurut dia, sejak awal manajemen telah menyiapkan tata kelola perusahaan yang baik, dan administrasi legal yang rapi.

Langkah go public Bali United juga membuat beberapa klub sepak bola Tanah Air ingin mengikuti jejaknya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memberi sinyal klub bola Arema FC akan menyusul Bali United menawarkan saham ke publik.

Ia mengkonfirmasi telah bertemu dengan klub bola asal Malang tersebut.

"Jadi, memang Arema sudah kami lakukan pendekatan. Kami kontak mereka, mereka respons dan setelah itu kami datangi," ucap Nyoman, Senin (17/6).

Tak hanya Arema FC, BEI juga akan bertemu dengan Persija dan Persib untuk mendorong kedua klub itu melempar sebagian sahamnya ke publik.

Direktur Utama Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan dengan menjadi perusahaan publik, klub sepak bola bisa mendapatkan berbagai keuntungan.

Pertama, klub sepak bola bisa meraih dana segar dari gelaran IPO. Lebih lanjut, dana ini bisa digunakan klub bola untuk modal mengembangkan bisnisnya maupun menjaring pemain baru yang berkualitas.

Bali United tercatat mengantongi dana segar sebesar Rp350 miliar. Manajemen mengatakan akan menggunakan dana hasil IPO untuk memenuhi kebutuhan investasi, memperkuat struktur permodalan di entitas anak, dan sisanya untuk modal kerja.

Kedua, gelaran IPO ini diyakini bisa meningkatkan fanatisme fans klub bola itu. Ia meyakini banyak fans Bali United yang memborong saham emiten berkode BOLA itu.

Toh, kini membeli saham di pasar modal makin mudah dilakukan, bahkan bisa dengan modal Rp100 ribu.

"Ketiga, mereka mendapat sarana iklan lewat go public. Jadi ketika diliput oleh media itu menjadi sarana iklan bagi mereka," ujarnya.

Namun demikian, perjuangan klub bola tidak berhenti hanya dengan euforia go public.

Ia bilang klub bola harus mampu menunjukkan kinerja perusahaannya sekaligus menjaga prestasinya.

Pasalnya, bisnis klub bola ini cenderung unik dan berbeda dibandingkan perusahaan lainnya.

Pendapatan mereka terutama didapat dari iklan, penjualan merchandise, penjualan tiket, hak siar, dan sebagainya.

Dari sisi pengeluaran, klub bola harus menggaji pemain dan membeli pemain.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi klub bola dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya.

"Menariknya klub bola berprestasi cenderung mendapatkan iklan dan penjualan tiket lebih banyak. Namun, mereka juga butuh pemain yang lebih mahal, jadi tidak mudah bagi klub bola untuk balance (menyeimbangkan) itu," tuturnya.

Selain kinerja perusahaan, ia bilang klub bola juga dituntut untuk menjaga prestasinya.

Sebab, hal itu akan menjadi salah satu tolak ukur bagi investor maupun basis fans klub bola itu.

Secara umum, ia merekomendasikan beli untuk untuk saham BOLA.

Alasannya, industri sepak bola tanah air masih memiliki prospek bagus ke depan serta sepak bola menjadi salah satu olahraga favorit di Indonesia.

Senada, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan IPO akan membantu klub bola mencari alternatif pendanaan.

"Apalagi masing-masing klub sepak bola dituntut agar independen dalam rangka mencari sumber pendanaan," tuturnya.

Di luar sisi materiil, dengan menjadi perusahaan tercatat klub bola dipastikan lebih profesional dalam pengelolaan bisnisnya.

Sebab, sebagai perusahaan tercatat, mereka diwajibkan memberikan transparansi kepada publik sebagai pemegang saham.

Misalnya dari sisi laporan keuangan, perusahaan tercatat harus memberikan laporan keuangan setiap kuartal.

Laporan keuangan ini bisa diakses oleh publik melalui laman resmi BEI.

Pun demikian, dengan seluruh aksi korporasi perusahaan harus dilaporkan kepada bursa sebagai otoritas di pasar modal.

"Saya pikir sisi positifnya klub sepak bola akan lebih profesional dalam mengelola bisnisnya, kalau dulu hanya sebatas pembinaan sepak bola," katanya.

Namun, hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi klub sepak bola.

Sebab, jika kinerjanya buruk atau tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, maka akan memberikan dampak negatif bagi pergerakan saham maupun prestasi klub bola sendiri.

Ia menilai saham BOLA bisa dijadikan alternatif investasi jangka panjang.

Alasannya, secara fundamental perseroan menunjukkan perbaikan kinerja keuangan.

Pada 2018, perseroan berhasil mengantongi kenaikan pendapatan sebesar 119,42 persen dari Rp52,5 miliar menjadi Rp115,2 miliar.

Kenaikan pendapatan membuat perusahaan meraup pertumbuhan laba sebesar 885,89 persen dari Rp481,63 juta menjadi Rp4,74 miliar.

"Apalagi animo sepak bola di tanah air sangat besar, bahkan terbesar di Asia. Kalau melihat pertandingan sepak bola pasti padat. Jadi investor hanya perlu mencermati kinerja fundamental dan good corporate governance (tata kelola perusahaan)," ujarnya.

Video analisa investasi saham Bali United


Daftar artis yang beli klub sepakbola

Fenomena artis ataupun pesohor publik yang membeli klub sepak bola terkhusus Liga 2 Indonesia kini menjadi buah bibir.

Dari mulai Raffi Ahmad, Gading Marten, Atta Halilintar, Baim Wong hingga putra bungsu Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) Kaesang Pangarep, mereka membeli klub yang akan bermain di kasta kedua Liga Indonesia.

1. Atta Halilintar kini miliki AHHA PS Pati FC


Youtuber laris Indonesia, Atta Halilintar memilih menyulap PSG Pati, menjadi klub bola lokal baru.

Atas seizin istri Aurel Hermansyah, klub itu dinamainya AHHA PS Pati FC.

Tidak hanya mengganti namanya, logo baru khusus untuk klub barunya itu pun turut dibuat guna merefresh tim tersebut.

“Bismillah @ahhaps.fc. Semoga bisa ikut bangun sepak bola Indonesia! Dan melahirkan pemain-pemain hebat untuk Indonesia! ASHIAP! MERAKYAT!!,” tulis Atta pada Sabtu (5/6).

2. Baim Wong


Baim Wong, si artis YouTube sukses ini mengkonfirmasi keikutsertaannya dalam sepak bola tanah air

Aktor terkenal yang kini juga menjadi youtuber, Baim Wong, juga turut ambil bagian dalam persepakbolaan negeri ini.

Melalui akun Instagram @baimwong di bulan Mei yang lalu, dirinya dikaitkan dengan kepemilikan sebuah klub bola.

Hal ini mencuat setelah unggahannya bersama Direktur bisnis PT LIB (Liga Indonesia Baru), Rudy Kangdara, menuai komentar netizen

"Deal sudah," tulis Baim sebagai caption dalam unggahannya, Jumat (21/5) lalu.

Netizen pun banyak yang mengira-ira tim yang dibeli suami dari Paula Verhoeven ini.

"ULTRAS TIGER WONG," tulis akun @dimasdemong93.

"Sriwijaya FC is real ????," tulis @baimpaulakiano.galeri.

3. Gading Marten akuisisi Persikota Tangerang

Baru lima hari lalu tepatnya pada Jumat (4/6) lalu, Aktor Gading Marten diumumkan resmi mengakuisisi klub sepak bola Persikota Tangerang.

Akuisisi ini diumumkan dalam akun Instagram @persikotafc1994 pada unggahan feed instagramnya pada Jumat (4/6).

"Persikota Tangerang secara resmi telah mencapai kata sepakat dengan salah satu tokoh, artis, pengusaha dan pegiat sepakbola ternama tanah air untuk bersama memajukan Bayi Ajaib lolos ke liga 2 musim ini," begitulah keterangan akun tersebut.

Dengan demikian Gading Marten turut menambah daftar sejumlah rekan selebritas yang sebelumnya telah terjun mengakuisisi klub sepak bola.

4. Raffi Ahmad ambil alih Cilegon FC


Raffi Ahmad bersama pengusaha Rudy Salim mengambil alih Cilegon FC dan mengubah namanya menjadi RANS Cilegon FC.

Hal tersebut dipastikan setelah Raffi Ahmad memberikan pengumuman resmi pada Rabu (31/3) lalu.

Raffi menggandeng Prestige Motorcars milik Rudy Salim, yang merupakan sahabat akrab Raffi Ahmad.

Raffi Ahmad dan Rudy Salim kini bertindak sebagai Chairman Cilegon FC.

Bukan tanpa alasan dirinya menggeluti bidang sepak bola dan menjadi pemilik baru Cilegon United.

Pasalnya, laki-laki yang merupakan suami dari Nagita Slavina ini, mengaku begitu tertarik dengan olahraga ini sedari masih kecil dan berniat untuk membesarkan dunia persepak bolaan Indonesia.

Raffi menceritakan semasa kecilnya ingin sekali bergabung dengan Persib Junior.

"Ketika pihak dari Cilegon United FC memberi penawaran kepada Rans untuk membantu dan bekerjasama membesarkan nama tim, saya sebagai pecinta olahraga tertarik dan punya keinginan untuk membesarkan nama sepak bola Indonesia," ungkapnya.

5. Kaesang kuasai 40 persen saham Persis Solo


Kaesang Pangarep yang merupakan putra bungsu Presiden Joko Widodo, resmi mengakuisisi mayoritas saham Persis Solo.

Kaesang menguasai 40 persen saham tim berjulukan Laskar Sambernyawa tersebut. Dirinya berkomitmen terhadap talenta-talenta muda Solo Raya.

Kabarnya anak Presiden Jokowi yang berusia 26 tahun itu akan menguasai 40 persen saham klub dan juga ditunjuk sebagai Direktur Utama Persis.

"Komitmen pasti, karena dari awal, balik lagi, Persis Solo Liga 1 itu harga mati. Saya juga pingin mengembangkan talenta-talenta asli Solo Raya. Itu yang ingin saya kembangkan," ucap Kaesang.

Dengan adanya deretan artis serta pesohor publik yang saat ini membeli klub Liga 2, hal ini dinilai akan lebih baik dalam tata cara pengelolaannya.

Karena, kemampuan mereka telah teruji dalam menghasilkan pundi-pundi uang, meskipun mereka akan berbeda dalam konsep bisnis dengan para pemilik lainnya di Liga 2 Indonesia. (*)

Sumber:

  • https://economy.okezone.com/amp/2021/06/07/455/2421269/mengintip-peluang-bisnis-sepakbola-yang-banyak-diincar-artis-bisa-bikin-kaya-raya
  • https://youtu.be/YHVr-Fnoxc4
  • https://fandom.id/artikel/analisis/opini/tren-bisnis-sepakbola-indonesia-berubah-pssi-tidak/
  • https://youtu.be/sLoRCHJ1HAk
  • https://www.google.com/amp/s/boladunia.skor.id/bola-internasional/amp/sk-01329525/dari-mana-klub-sepak-bola-meraih-penghasilan
  • https://youtu.be/YcR-MrIqBoE
  • https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190623034749-92-405582/berhitung-untung-dan-rugi-klub-sepak-bola-go-public
  • https://youtu.be/LLomS4fUk5o
  • https://www.google.com/amp/s/www.popmama.com/amp/life/health/greg-bima/jadi-buah-bibir-ini-artis-artis-yang-beli-klub-bola-liga-2-indonesia

Posting Komentar untuk "Analisa bisnis sepakbola Indonesia, sumber penghasilan hingga fenomena artis beli klub"