Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah gelar sarjana penting? Bocah 12 tahun bisa untung 43% dari Saham


Purwakarta Online - Dilansir dari CNBC Indonesia, bocah anak laki-laki berusia 12 tahun asal Korea Selatan (Korsel) bernama Kwon Joon mempunyai kebiasan baru sekarang, yakni menonton berita bisnis.

Bocah yang bermimpi menjadi "the next Warren Buffett" ini berhasil untung sebesar 43% dari hobinya membeli saham yang dimulai tahun 2020 lalu.

Awalnya, Kwon membujuk ibunya untuk membukakan akun trading saham pada April tahun 2020 lalu dengan bermodalkan 25 juta won atau sekitar Rp 316,50 juta (kurs Rp 12,66/won) sebagai modal awal.

Mujurnya, pembukaan rekening Kwon tepat bersamaan ketika indeks acuan KOSPI di Bursa Korea Selatan mulai pulih dari penurunan terbesarnya selama sepuluh tahun terakhir.

"Saya benar-benar membujuk orang tua saya untuk melakukannya, karena saya percaya kepada seorang ahli yang mengatakan (di televisi) bahwa ini adalah kesempatan sekali dalam satu dekade," ujar Kwon, seperti dikutip dari Reuters (9/2/2021).

Gaya investasi Kwon Joon mirip Warren Buffett


Kwon Joon mengaku sangat terinspirasi oleh raja investasi saham tersohor di dunia, yakni Warren Buffett.

"Panutan saya adalah Warren Buffett," katanya lagi.

Maka tidak heran langkah-langkah yang diambil Kwon Joon lebih mirip gaya bermain sahamnya Warren Buffett. Yaitu Investasi saham dalam jangka panjang, serta apik dalam memilih bidang usaha dari perusahaan yang dibeli sahamnya.

"Ketimbang fokus pada perdagangan jangka pendek [trading], saya ingin menahan investasi saya selama 10 sampai 20 tahun dengan perspektif jangka panjang, semoga bisa memaksimalkan keuntungan saya," kata anak laki-laki berusia 12 tahun ini.

Siapa itu Warren Buffett?


Sebagai informasi, Warren Buffett adalah salah satu orang terkaya dunia, pemilik perusahaan investasi Berkshire Hathaway Inc, dan investor saham paling sukses di dunia.

Bloomberg Billionaires Index menempatkan Buffett di urutan nomor 9 dunia, dengan kekayaan bersih US$ 91 miliar atau setara Rp 1.274 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Cara Kwon Joon mengumpulkan dana untuk investasi


Kwon, yang ingin mengejar "investasi nilai" dengan mengoleksi saham blue chip, mengumpulkan dana untuk investasi saham dengan berbagai cara, mulai dari hadiah, berjualan mainan mobil mini, sampai menjalankan mesin penjual otomatis.

Ia telah menjadi ikon yang memimpin kebangkitan perdagangan ritel di tengah pandemi Covid-9.

Tren investor muda di Korea Selatan


Kebanyakan investor ritel di Korsel adalah remaja atau bahkan berusia lebih muda. Mereka merengkuh lebih dari dua pertiga dari total nilai yang diperdagangkan di bursa di Korea Selatan, lebih tinggi dari 2019 yang kurang dari 50%.

Tren ini berkembang seiring pasar ekuitas berhasil memikat orang tua di Korsel yang kadung kecewa dengan sistem pendidikan yang ada dan kaum milenial yang bekerja dari rumah (WFH).

"Saya bertanya-tanya, di zaman sekarang ini, apakah gelar sarjana masih menjadi yang paling penting," kata ibu Kwon, Lee Eun-joo, yang menyulut hasrat anak laki-lakinya dengan mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis ketimbang soal biaya kuliah.

"Karena kita hidup di dunia yang berbeda sekarang, mungkin lebih baik untuk menjadi tipe orang 'satu-satunya'," tambah Lee, yang khawatir bahwa sekolah yang baik mungkin tidak akan membantu putranya untuk menghadapi peluang kerja yang semakin menipis.

Pialang saham untuk anak di bawah umur


Menurut data Kiwoom Securities, pialang saham paling ramah ritel di Korea Selatan, ada sekitar 70% dari 214.800 akun pialang saham untuk anak di bawah umur. Akun-akun ritel tersebut mencakup sampai seperlima dari total pangsa pasar.

Berkat penutupan sekolah akibat pandemi Covid-19, sejak tahun lalu Kwon membuat daftar pembelian saham, yang dia lakukan saat terjadi koreksi pasar.

Saham-saham yang masuk di daftar Kwon merentang dari operator aplikasi layanan pesan terbesar di Korea Selatan, Kakao Corp, sampai pembuat chip memori terbesar di dunia Samsung Electronics Co., dan Hyundai Motor.

Keberhasilan Kwon ini tentu merefleksikan adanya tantangan ketenaga-kerjaan bagi anak muda Korsel, meskipun Negeri Ginseng ini berada di kelompok paling berpendidikan tinggi di kelompok OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) negara-negara maju.

Pengangguran merejalela di Korsel


Menurut data, tingkat pengangguran di kalangan pemuda Korea berusia 15 dan 29 tahun melonjak menuju rekor baru sebesar 27,2% pada Januari tahun 2021 ini.

Ini akibat jumlah lapangan pekerjaan di Korsel yang merosot tercepat dalam dua dekade terakhir di tengah pembatasan untuk menangani Covid-19.

Dilansir Reuters, tiga perempat orang melanjutkan ke perguruan tinggi setelah mengenyam sekolah menengah.

Lulus kuliah belum tentu mudah dapat pekerjaan


Tetapi menjadi lulusan perguruan tinggi tidak menjamin mudah untuk mendapat pekerjaan. Inilah kenyataan yang harus dihadapi saat ini.

"Tidak ada cukup pekerjaan untuk lulusan perguruan tinggi, sehingga banyak yang memilih mendiversifikasi jalur karir mereka lebih awal," kata peneliti kejuruan Min Sook-weon.

Kwon Joon memilih jadi investor daripada kuliah


Kwon memahami situasi ini, ia memilih menjadi investor besar daripada mengejar nilai agar masuk universitas ternama.

"Ketimbang bersekolah di sekolah yang bagus, seperti di Universitas Nasional Seoul, saya lebih baik menjadi investor besar." Kata Kwon Joon.

Kwon Joon juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia filateli sebagaimana 'Sultan-sultan' penguasa dunia saham lainnya.

"Saya juga berharap dapat melakukan banyak pekerjaan amal," pungkas Kwon Joon.

Video Kwon Joon:


Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/investment/20210210162155-21-222516/top-ngefans-warren-buffett-bocah-12-tahun-cuan-43-di-saham/2

Posting Komentar untuk "Apakah gelar sarjana penting? Bocah 12 tahun bisa untung 43% dari Saham"