Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kunci kebangkitan Bangsa Jepang pasca Perang Dunia ke-2 (bagian 1)

kunci-rahasia-kemajuan-bangsa-jepang-negara-pasca-perang-dunia-2-teknologi-falsafah-visi-misi-cara-kebijakan-motif

Kebangkitan Jepang pasca-Perang Dunia II 

membawa kemajuan ekonomi yang pesat dan memosisikan Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia. Salah satu faktor penting dalam kebangkitan ekonomi Jepang adalah keberhasilan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mendukung industrialisasi.

Pada awalnya, penguasaan teknologi modern dilakukan melalui impor teknologi dari negara Barat, yang kemudian diadopsi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan Jepang. Hal tersebut mendorong cepatnya penguasaan teknologi modern dan mengatasi ketertinggalan Jepang atas kemajuan ekonomi negara-negara Barat.

Salah satu keberhasilan dalam penguasaan teknologi modern adalah terciptanya produk elektronik rumah tangga yang diperlukan oleh masyarakat. Sesaat setelah Perang Dunia II, setidaknya setiap rumah tangga memiliki satu perangkat elektronik rumah tangga, seperti televisi dan mesin cuci, sehingga mempermudah kehidupan sehari-hari masyarakat.

Saat ini, produk elektronik Jepang dikenal sebagai produk yang berkualitas tinggi dan sebagian telah diekspor ke luar negeri. Selain itu, Jepang dikenal sebagai salah satu negara yang menguasai teknologi mobil, robot, dan pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, dam, jembatan, gedung tahan gempa, dan sebagainya.

Cara Jepang 'memberi bantuan'


Sebagai negara maju, Jepang mempunyai pengaruh besar pada perekonomian dunia, terutama negara-negara di kawasan Asia. Jepang memberikan bantuan pembangunan, official development assistance (ODA), untuk negara-negara di Asia Tenggara sejak 1954.

Pada tahap pertama, pemberian bantuan tersebut bertujuan membayar kerusakan perang. Namun, bantuan menimbulkan kontroversi karena sebagian besar bantuan tersebut digunakan untuk kepentingan ekonomi Jepang (Muratani, 2007, 26). Jumlah ODA semakin meningkat, dan pada 1989 Jepang menjadi negara pemberi pinjaman luar negeri terbesar di dunia. Sebagian besar bantuan tersebut berupa technical assistance (bantuan teknis) tidak hanya dalam bentuk barang, tetapi juga dalam bentuk pengetahuan dan tenaga ahli.

Bantuan tersebut diberikan, terutama, kepada negara-negara bekas jajahan di Asia Tenggara untuk pembangunan hydropower dalam skala besar, transportasi, dan proyek industri. ODA berkontribusi pada peningkatan perekonomian Jepang dengan memanfaatkan teknologi dan pengiriman tenaga ahli dari Jepang untuk mengerjakan proyek-proyek tersebut.

Beberapa negara penerima bantuan pembangunan Jepang dalam jangka panjang adalah Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Indonesia, India, Filipina, Thailand, dan China. Keberhasilan Jepang dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu kekuatan besar untuk memengaruhi perekonomian di negara Asia.

Jepang pada masa perang berhasil menguasai beberapa negara di Asia, seper ti Korea, China, serta negara di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Indonesia. Posisi Jepang sebagai negara penjajah mempermudah mereka untuk membangun infrastruktur di negara-negara jajahannya dengan menggunakan teknologi dan mengerahkan tenaga ahli yang dimiliki.

Pembangunan berbagai infrastruktur bertujuan memperlancar Jepang dalam memperoleh sumber daya alam di negara-negara jajahan yang diperlukan untuk industrialisasi. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam pembangunan berbagai infrastruktur pada masa perang dijelaskan secara lengkap oleh Aaron Stephen Moore dalam bukunya yang berjudul Constructing East Asia: Technology, Ideology, and Empire in Japan’s Wartime Era, 1931–1945.

Constructing East Asia adalah salah satu buku yang memberikan pandangan berbeda tentang Jepang pada masa perang terkait dengan kemajuan teknologi yang dimilikinya. Dengan menggunakan konsep technological imaginary (imajinasi teknologi), Moore menjelaskan bagaimana teknologi digunakan untuk menjalankan sebuah ideologi dan kekuasaan.

Secara lebih detail Moore menjelaskan dinamika politik yang terjadi dalam membentuk imajinasi teknologi yang melibatkan berbagai kelompok, seperti intelektual, teknokrat, insinyur, dan birokrat, dalam memahami teknologi sebagai sesuatu yang mempunyai arti dan visi. Pemahaman mengenai pandangan kelompok-kelompok tersebut terhadap teknologi pada masa perang menjadi landasan untuk melihat pandangan masyarakat Jepang terhadap teknologi pada saat ini serta memahami peran teknologi Jepang dalam perekonomian di kawasan Asia.

Fungsi teknologi Jepang saat perang


Moore (2013) berargumen bahwa teknologi Jepang pada masa perang dipahami tidak hanya sebagai sebuah mesin dan infrastruktur yang modern, tetapi juga sesuatu yang mengandung subjektivitas, etika, dan visi. Selain itu, teknologi merepresentasikan sebuah pemikiran kreatif, akting, nilai rasionalitas, kerja sama, efisiensi, semangat egaliter, serta tidak adanya konflik kelas dan etnik.

Imajinasi teknologi memberikan panduan bagi aktor sosial dari birokrat yang merencanakan perekonomian Jepang pada masa perang serta insinyur yang merencanakan dan membangun mega proyek infrastruktur di negara-negara jajahan. Moore mendefinisikan fasis sebagai sebuah ideologi dan alat kekuasaan global yang disesuaikan dengan konteks nasional yang mengombinasikan aspek modern dan non modern untuk transformasi dan menggerakkan masyarakat (Moore, 2013, 8).

Dalam hal ini, Moore (2013, 9) melihat imajinasi teknologi sebagai alat kekuasaan fasis. Hal ini tampak pada masa perang ketika Jepang secara gencar membangun proyek-proyek besar infrastruktur, seperti dam, jalan, kanal, pelabuhan, kota, irigasi, jaringan listrik, dan jaringan komunikasi di wilayah jajahan, misalnya Korea, Taiwan, Manchuoko, dan China. Moore (2013, 8) menjelaskan, ideologi fasis Jepang bersifat rasional, modern, dan tidak bergantung pada spiritualisme, nasionalisme, dan kebudayaan. (*)

* Tinjauan Buku yang berjudul IMAJINASI TEKNOLOGI DAN FASISME JEPANG TAHUN 1931–1945 Aaron Stephen Moore. Constructing East Asia: Technology, Ideology, and Empire in Japan’s Wartime Era 1931–1945. Stanford University Press, 2013), oleh Upik Sarjiati dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2016
* Foto: Pexels

Berlangganan via Email