Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Penelitian tentang Caleg depresi yang kalah Pemilu Tahun 2014

penelitian-caleg-depresi-kalah-pemilihan

PurwakartaOnline.com - Caleg yang mengalami depresi atau gangguan psikosis ini kondisinya biasanya ditutupi oleh keluarga yang bersangkutan, untuk meredam malu dan menjaga nama baik keluarga. Depresi atau gangguan psikosis yang dialami Caleg akan mengakibatkan keengganan untuk berobat di Rumah Sakit yang dekat dengan tempat tinggal. Mereka justru akan mencari perawatan diluar medis dan itupun jaraknya jauh dari tempat tinggal.

Konsep Diri Tentang Kekuasaan


Dalam mengkonsepkan ”kursi” atau jabatan sebagai Calon Legeslatif dalam Pemilu 2014, muncul dua konsep jabatan yaitu sebagai amanah dan sekedar ”kursi” yang erat dengan kekuasaan. Pandangan calon legeslatif sebagai amanah adalah pandangan positif sebagai wakil rakyat, dimana mereka memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat.

Sementara pandangan jabatan sebagai ”Kursi” menempatkan jabatan sebagai kekuasaan yang tak terhingga, yang sarat uang, dan memiliki nilai tinggi di mata masyarakat. Berdasarkan kesesuaian konsep diri dari pengalamannya, caleg yang depresi tersebut mengalami Incongruence, yaitu ketidak-sesuaian antara konsep diri dan pengalaman disebabkan adanya pengasingan diri yang mendasar dalam individu.

Dalam hal ini individu merasa diancam dan takut karena dia ternyata tidak mampu menerima secara terbuka dan fleksibel semua pengalaman dan nilai dalam konsep dirinya yang terlalu sempit. Caleg yang depresi belum dapat menerima pengalaman pahit atas kegagalan dalam pemilihan legeslatif Tahun 2014 yang berdampak pada gangguan psikosis dalam dirinya.

Motivasi ikut pemilihan legeslatif


Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini muncullah dua motif yaitu motif dalam (intrinsic) dan motif luar (ekstrinsik). Motif diri dari dalam (intrinsik) yang muncul dari caleg yang depresi adalah karena hati nuraninya yang ingin mengabdi sebagai wakil rakyat dan untuk pengabdian, dan keinginan untuk mendapatkan kursi / jabatan tersebut karena sarat akan uang dan memiliki nilai tinggi di mata masyarakat (ingin terpandang).

Adapun motif dari luar (ekstrinsik) nya adalah adanya dukungan dari keluarga dan teman –teman dan adanya ambisi dan tuntutan orang terdekat untuk memperoleh kursi tersebut. Ketidak-seimbangan antara motif intrinsik dan ekstrinsik akan memperparah gangguan psikosis / depresi yang dialami caleg yang kalah dalam pemilu 2014. Motif ekstrinsik yang terlalu kuat akan menimbulkan tekanan dalam diri caleg tersebut.

Motif intrinsik yang terlalu kuat akan menimbulkan ambisi besar dalam diri caleg sementara pada akhirnya mereka tidak siap untuk menerima kekalahan (kondisi diri yang tidak siap). Motif intrinsik yang tidak didukung ekstrinsik, maupun sebaliknya, pada akhirnya juga akan memperparah kondisi kejiwaan caleg dalam mengahadapi kekalahan yang harus diterimanya.

Gangguan psikosis yang dialami


Gejala yang dialami sebagai dampak dari kegagalan pencalonan adalah munculnya perubahan suasana hati. Dari perubahan suasana hati kemudian berlanjut ke stress karena merasa bahwa usahanya yang dilakukan untuk menang sudah banyak tetapi pada akhirnya harus kalah.

Muncul rasa tidak terima atas kekalahan itu dan muncul rasa malu. Stress kemudian berubah menjadi depresi dengan sering melamun, mengurung diri di rumah, tidak pernah kumpul –kumpul dengan warga sekitar seperti biasanya, menutup diri, hingga muncul perasaan dendam dengan tim suksesnya yang janjinya akan memenangkan tetapi pada akhirnya gagal dalam pencalonan.

Berdasarkan analisa yang dilakukan, gangguan suasana hati, depresi yang parah dan perubahan suasana hati seringkali diasosiasikan dengan gangguan proses berpikir dan halusinasi. Halusinasi dapat diasosiakan dengan suasana hati penderita yang mendalam.

Kondisi gangguan psikosis yang lebih parah bisa saja terjadi jika kekalahan dialami berturut-turut atau berkali-kali. Dimana tuntutan atau tekanan dari luar/ orang terdekat sangat besar, sementara diri sendiri tidak mampu menangani atau menyeimbangkan.

Berdasarkan analisa yang dilakukan, kondisi parah itu dapat mengakibatkan munculnya Schizophrenia, yaitu gangguan psikotik berat yang ditandai distorsi berat atas realitas, menarik diri dari interaksi sosial, disorganisasi, dan fragmentasi persepsi, pikiran, dan emosi.

Gangguan skizophrenia berkembang secara pelan –pelan dan tersembunyi, ciri umumnya meliputi: sifat menyendiri, hilangnya perhatian terhadap dunia sekitar secara bertahap, melamun secara berlebihan, emosi yang menumpul, dan tingkah laku yang tidak sesuai.

Ditinjau dari segi proses munculnya, schizophrenia berkembang secara pelan dan bertahap. Gangguan ini berawal dari kegagalan yang pertama dan bertahap sampai dengan kegagalan berikutnya. Kekecewaan yang berlebihan dan tidak dapat menerima keadaan nyata, serta harapan yang terlalu besar tetapi pada akhirnya berujung pada kekecewaan yang mendalam.

Kesimpulan


Fenomenologi Calon Legeslatif yang depresi karena kalah dalam Pemilu Tahun 2014 ini melihat dari sisi konsep calon legeslatif tentang kekuasaan, motif diri calon legeslatif yang mengalami depresi, dan gangguan psikosis itu sendiri yang dialami oleh calon legeslatif yang kalah dalam pemilu 2014.

Dari segi konsep calon legeslatif tentang kekuasaan, muncul dua tipe yaitu konsep jabatan anggota legislatif sebagai amanah rakyat dan pengabdian yang harus diemban (sisi positif), dan ”kursi” anggota legeslatif sebagai pekerjaan yang sarat uang, bernilai tinggi di mata masyarakat (prestige), dan sarat kekuasaan (sisi negatif).

Dilihat dari kesesuaian antara konsep diri dengan pengalamannya, caleg yang kalah tersebut mengalami ketidak-sesuaian atau incongruence, dimanamunculnya kondisi belum dapat menerima pengalaman pahit atas kegagalan dalam pemilihan legeslatif Tahun 2014 yang berdampak pada gangguan psikosis dalam dirinya.

Selanjutnya dari segi motif diri, muncul dua sisi yakni motif intrinsik yang berasal dari dalam diri (diri sendiri) dan motif ekstrinsik yang berasal dari luar diri (seperti tuntutan orang terdekat seperti istri, dukungan keluarga dan teman satu partai).

Dilihat dari jenis gangguan psikosis, calon legeslatif yang depresi karena kalah dalam pemilu 2014 ini dapat berupa Schizophrenia (yang pada penelitian ini berupa schizophrenia proses), dan gangguan suasana hati (gangguan ringan). (*)

* Baca selengkapnya dalam Jurnal FENOMENOLOGI CALON LEGESLATIF (CALEG) DEPRESI KARENA KALAH DALAM PEMILIHAN, ditulis tahun 2014 oleh Lusia Astrika. Diterbitkan di ejournal.undip.ac.id

Berlangganan via Email