Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perkembangan teknologi Jepang pasca Perang Dunia kedua (Bagian 5)

kunci-kemajuan-bangsa-negara-jepang-pasca-perang-falsafah

Selanjutnya kita akan membahas soal implementasi konsep comprehensive technology dalam pembangunan infrastruktur, dari perencanaan hingga pelaksanaan. 

Dijelaskan bagaimana pembangunan proyek perbaikan Sungai Liao di sebelah selatan Manchuria, proyek perencanaan Kota Beijing, China, dan Pelabuhan Dadong yang terletak di Sungai Yalu, sebelah timur Manchuria, sedangkan pembangunan dam terbesar di Asia.

Kelompok insinyur telah terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Taiwan sebagai wilayah kolonial Jepang pada 1895, seperti pembangunan kota, jalan, rel kereta api, pelabuhan, dan infrastruktur komunikasi.

Sejak terjadinya insiden Manchuria, proyek pembangunan Jepang di wilayah kolonial bergeser ke sektor pertanian, pertambangan, dan perdagangan. 

MenurutKobayashi Hideo, proyek pembangunan di Manchukuo menandakan pergeseran fokus pembangunan ekonomi wilayah kolonial dari rel kereta api dan pelabuhan ke pembangunan pertanian serta dari pertambangan menuju industri militer (Moore, 2013).

Pembangunan infrastruktur menjadi arena bagi insinyur untuk mengembangkan imajinasi teknologi dengan skala yang lebih besar melalui desain dan konstruksi proyek yang sistematis dan terintegrasi pada masa perang. 

Pengembangan pertanian di wilayah kolonial dipandang sebagai kesempatan besar bagi petani di Jepang yang sedang mengalami krisis ekonomi pada 1930-an.

Migrasi besar-besaran dilakukan oleh petani dari Jepang ke Manchuria untuk mengembangkan industri pertanian (Young, 1998). 

Imajinasi teknologi tidak hanya dibentuk oleh para insinyur dan birokrat Jepang, tetapi juga oleh proses kolonialisasi itu sendiri.

Pada awalnya, koordinasi dalam proyek perbaikan pengelolaan Sungai Liao untuk pengendali banjir, sumber energi listrik, irigasi, dan transportasi tidak mudah dilakukan. 

Negosiasi dan kerja sama dalam pembangunan infrastruktur harus dilakukan dengan teknisi China

Selain itu, proyek tersebut harus menyesuaikan dengan agenda Jepang dalam rangka pembangunan wilayah koloni, seperti industrialisasi, pembangunan pertanian, dan pengendalian banjir.

Comprehensive technology yang digagas oleh Kojin Club diimplementasikan dengan menggunakan teknologi luar negeri yang disesuaikan dengan kondisi alam di Manchuria dan keterampilan yang dimiliki oleh insinyur. 

Proyek besar perbaikan Sungai Liou terdiri atas tiga bagian proyek, yakni:
  1. pembangunan dam kecil pengendali erosi dan penghutanan kembali di sekitar Sungai Liao;
  2. proyek pembangunan waduk besar di Naodehai untuk mengontrol endapan, arus sungai, dan irigasi;
  3. perbaikan sungai di dekat Kota Xinmin untuk mencegah terjadinya banjir.

Namun, proyek perbaikan Sungai Liao terhambat oleh ketidaksesuaian antara perencanaan pembangunan dan kondisi geologis. 

Selain itu, memburuknya situasi akibat perang menyebabkan proyek tersebut tidak dapat diselesaikan.

Proyek pembangunan infrastruktur lainnya adalah pembangunan Kota Beijing. 

Pembangunan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh insinyur Jepang untuk mengimplementasikan pengalaman yang mereka miliki, tetapi juga memanfaatkan teori-teori perencanaan kota dari negara Barat.

Pembangunan kota dilakukan secara komprehensif supaya dapat memasukkan unsur-unsur tradisional China, memenuhi kriteria militer untuk pertahanan nasional, serta mewujudkan kota yang terintegrasi secara ekonomi, politik dan sosial. 

Pembangunan infrastruktur di China tidak hanya dilihat sebagai pemanfaatan teknologi modern Barat dalam konteks kolonial, tetapi juga dibentuk oleh pertentangan antara insinyur lokal dan pusat, pemerintah kolonial, serta agenda pembangunan pada masa perang.

Pembangunan dua dam terbesar di dunia, yakni Fengman dan Sup’ung. Dianalisa relasi kekuasaan dalam produksi pengetahuan teknis dan proyek pembangunan dam di Sungai Songhua di sebelah barat Manchuria dan hydro power di Sungai Yalu, yang terletak di perbatasan antara Korea dan Manchuoko.

Pembangunan dam tidak hanya merepresentasikan imajinasi teknologi, tetapi juga memperlihatkan perubahan manajemen air yang lebih sistematis. 

Dam multifungsi pertama yang dibangun di Asia berguna untuk menghasilkan energi listrik besar dan murah untuk industrialisasi, mencegah terjadinya banjir, irigasi pertanian, menjaga pasokan air bersih, memperluas usaha perikanan, dan menarik wisatawan.

Pembangunan dam memperlihatkan kekuasaan dan legitimasi Jepang sebagai negara adidaya. Keberhasilan Jepang dalam membangun dam di wilayah koloni berkontribusi dalam memberikan pemahaman tentang hubungan teknologi dan kekuasaan kolonial.

Moore berpendapat, pembangunan dam memberikan kesempatan kepada birokrat dan insinyur untuk berkontribusi secara lebih luas dalam pembangunan di wilayah koloni Jepang yang sebelumnya didominasi oleh militer.

Namun, implementasi dari visi dan imajinasi teknologi tidak mudah dilakukan, bahkan menimbulkan messy effect (dampak yang kompleks) akibat kekurang-pahaman dengan kondisi alam di Manchuoko, ketiadaan kerja sama dengan penduduk lokal, terjadinya konflik, dan terjadinya peristiwa yang tidak terduga (Moore, 2013).

Supervisor pembangunan dam Fengman, Honma Norio, menceritakan proses pembangunan dam yang diwarnai oleh ketidakpastian, ketidaktahuan, dan coba-coba. 

Keterbatasan pengetahuan alam dan lingkungan Manchuria yang dimiliki oleh insinyur Jepang memperlihatkan kelemahan dari implementasi imajinasi teknologi (Moore, 2013).

Lantaran kurangnya tenaga kerja di Manchuoko dan kebutuhan tenaga kerja yang banyak, pembangunan dam dilakukan oleh ribuan orang pekerja dari China dan Korea. 

Para pekerja tersebut terdiri atas anak muda, orang tua, tahanan, dan tawanan perang.

Moore (2013) menjelaskan, proyek ambisius diwarnai oleh eksploitasi tenaga kerja yang diharuskan bekerja pada siang dan malam hari dengan suhu di bawah 40 derajat Celsius. 

Setiap orang yang bekerja malam diberi satu tablet morfin untuk mengatasi udara dingin sehingga para pekerja mengalami kecanduan.

Sanitasi yang buruk dan fasilitas yang tidak sehat mempercepat penularan penyakit sehingga penyakit menjadi faktor utama penyebab pekerja meninggal. Kondisi tersebut diperburuk oleh adanya diskriminasi dan kekerasan yang diterima pekerja.

Diperkirakan ada satu orang pekerja yang meninggal setiap tiga hari sekali akibat sakit, kecelakaan kerja, atau ditembak karena melarikan diri.

Efisiensi dan eksploitasi tenaga kerja dilakukan untuk mengurangi biaya dan mempercepat pembangunan dam supaya dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. 

Pembangunan dam juga menyebabkan relokasi ribuan rumah tangga yang dipaksa pindah dan menempati sebuah desa yang telah ditentukan. (*)

* Tinjauan Buku yang berjudul IMAJINASI TEKNOLOGI DAN FASISME JEPANG TAHUN 1931–1945 Aaron Stephen Moore. Constructing East Asia: Technology, Ideology, and Empire in Japan’s Wartime Era 1931–1945. Stanford University Press, 2013), oleh Upik Sarjiati * * * dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2016
* Foto: Pexels

Berlangganan via Email